Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Kolom Telematika
Memuaskan Dahaga Pelanggan, Berimbas Laba
Kolom Telematika

Memuaskan Dahaga Pelanggan, Berimbas Laba


- detikInet

Jakarta - Sudah saatnya Indosat kembali ke jalur balapan yang benar. Setelah sempat memimpin klasemen dan kemudian tergelincir di lap kedua, kini saatnya operator telekomunikasi itu menyiapkan senjata pamungkas di lap ketiga demi merebut pasar. Caranya?MENAPAKI usianya yang ke-39 tahun, PT Indosat Tbk selayaknya diperhitungkan dalam peta persaingan telekomunikasi di Tanah Air. Namun, kenyataannya tak demikian. Posisi Indosat terkesan serba salah. Maksud hati ingin mengganggu singgasana sang penguasa pasar, tapi tak urung khawatir disalip pesaing yang kian mendekat.Jujur saja, Indosat yang sekarang terlihat tak seperkasa dahulu. Entah apa yang terjadi dengan operator prabayar pertama di Indonesia ini. Semenjak dikuasai asing per 23 Desember 2002, kinerja Indosat jadi kurang bertenaga.Buktinya, tak ada perubahan berarti yang dilakukan manajemen dalam mendongkrak kinerja perseroan. Indosat membukukan penurunan laba bersih 30,2 persen pada semester pertama 2006 ini. Laba bersih turun dari Rp 786 miliar pada semester I-2005 menjadi Rp 548,8 miliar pada periode yang sama tahun ini. Bahkan, hingga triwulan-III 2006, laba usaha Indosat turun drastis Rp 412 miliar dibandingkan periode yang sama di 2005. Sementara itu, dari jumlah peningkatan pelanggan secara keseluruhan juga tak signifikan. Selama kurun waktu setahun, perseroan sebesar Indosat hanya mampu menjaring pelanggan sekitar 904.000 pelanggan. Dari laporan kinerja semester I-2006, pelanggan Indosat hanya naik 7,7 persen menjadi 13.859.914 dari 12.874.963 di periode yang sama tahun sebelumnya. Belum lagi operator ini mencatat penurunan pendapatan operasional terbesar pada telepon tetap. Sektor itu turun 15,3 persen dari Rp 648,3 miliar menjadi Rp 548,9 miliar. Program Indosat Tak Menarik?Tak seluruhnya kinerja perseroan terbilang buruk. Buktinya, Indosat membukukan peningkatan pendapatan operasional terbesar pada sektor Multimedia, Data Komunikasi dan Internet (MIDI) sebesar 13 persen dalam laporan kinerja tersebut, dari Rp 820,1 miliar menjadi Rp 927,3 miliar. Dari data-data tersebut terlihat celah untuk menuai sukses. Apakah itu? Layanan data dan Internet. Satu lagi contoh betapa layanan data termasuk yang diminati dari segudang layanan yang digelar Indosat. Buktinya, IM3 yang menawarkan layanan mobile data terlengkap kepada pelanggan di kelasnya, tumbuh pesat menyaingi Mentari yang notabene cuma sebatas pionir layanan seluler prabayar. Kini IM3 sudah memiliki basis pelanggan sekitar 7 juta.Artinya, minat pelanggan akan layanan mobile data lumayan besar. Kebutuhan untuk mengakses internet dengan perangkat genggam bergerak sangat berpotensi untuk meningkatkan laba perseroan. Hitung-hitung, Indosat juga memuaskan dahaga pengguna akan layanan Internet berkualitas yang terbilang langka. Apa sebab?Dari data yang dirilis pesaing lama Indosat, jumlah pelanggan layanan Internet pitalebar kecepatan tinggi Telkom Speedy pada akhir 2005, dengan penetrasi tersebar di Jakarta, Surabaya dan Makassar, telah mencapai 30.662 satuan sambungan speedy (SSS). Sedangkan jumlah pelanggan hingga Mei 2006 tercatat 43.168 SSS dengan rata-rata pendapatan dari tiap pelanggan (average revenue per user- ARPU) mencapai Rp 498 ribu. Dari situ terlihat, betapa besar pertumbuhan pengguna Internet. Minat masyarakat akan layanan berbasiskan data kecepatan tinggi begitu besar. Menurut data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), hingga akhir 2007, pengguna Internet di Indonesia diperkirakan mencapai angka 20 juta pengguna. Pertumbuhan pengguna Internet sangat signifikan dan diperkirakan masih akan terus bertambah dengan melonjaknya angka pendaftar pasang baru. Melihat angka itu, Telkom sendiri menetapkan target untuk penjualan Speedy adalah 444 ribu SSL untuk tahun ini, 469 ribu SSL untuk 2007, dan 493 ribu SSL pada 2008. Belajar Dari KesalahanTak ada gading yang tak retak. Perusahaan segemuk Telkom bukan tanpa kekurangan. Terbukti dengan banyaknya keluhan akan buruknya kualitas layanan tersebut pada pelanggan. Keluhan pun sifatnya bermacam-macam. Mulai dari mahalnya harga layanan, tagihan yang bermasalah, dan putusnya konektivitas sambungan Internet ke jalur internasional. Perusahaan sebesar Indosat pastinya bisa belajar dari kesalahan yang dilakukan Telkom, agar dikemudian harinya bisa sukses memberikan layanan terbaik untuk publik. Sudah seyogyanya fenomena 3G kembali ke "habitat"-nya. Layanan komunikasi data dengan kecepatan tinggi yang berjalan dalam perangkat genggam bergerak.Di saat pemegang lisensi 3G yang lain hanya berkutat pada edukasi panggilan video dan menonton televisi di ponsel, Indosat semestinya bisa mencuri start dengan menawarkan layanan Internet kecepatan tinggi murni layaknya Telkom Speedy. Dengan kecepatan transfer data yang diyakini mencapai sekitar 384 Kbps hingga 2 Mbps, bisa dibilang 3G layaknya layanan Speedy dalam genggaman. Dengan menghadirkan layanan 3G generasi lanjutan berbasis teknologi High Speed Downlink Packet Access (HSPDA) atau 3,5G di seluruh jaringan Node B yang digelar maupun akses data dan Internet dengan kecepatan super tinggi di kelasnya, 3,6 Mbps atau sekitar 9 kali lebih cepat dari layanan 3G umumnya, Indosat sangat berpeluang merebut (bahkan menguasai) pasar penikmat akses data di negeri ini.Satu lagi data yang tertinggal dari pengguna Speedy. Selain pengguna kantoran, perusahaan kecil semisal warung Internet merupakan mayoritas penyumbang revenue terbesar dari layanan akses cepat milik BUMN pelat merah itu. Dari data yang dikutip Asosiasi Warnet Indonesia (AWARI) dan Asosiasi Pengusaha Warnet dan Komunitas Telematika (APWKomitel), total tercatat sekitar 4.700 warnet yang terdaftar di seluruh penjuru Indonesia.Dengan penawaran harga yang lebih masuk akal ketimbang yang sudah ada, bukan tak mungkin Indosat bakal berjaya di sektor yang belum disentuh operator penyedia jasa 3G yang telah lebih dahulu menggelarnya secara komersial. Indosat bisa memanfaatkan momentum 3G untuk meningkatkan kinerja keuangan perseroan dan menyalip klasemen, setidaknya di sektor layanan Multimedia, Data Komunikasi dan Internet (MIDI). Ya, siapa tahu!Penulis adalah wartawan teknologi informasi dan telekomunikasi di kanal detikINET, situs berita www.detik.com. Penulis bisa dihubungi melalui e-mail rourry[at]staff.detik.com. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja. (rou/rou)







Hide Ads