Bila MVNO Stagnan, Indosat Inginkan Pembagian Kanal
- detikInet
Jakarta -
Nasib kerjasama MVNO antara PT Indosat Tbk dengan PT Bakrie Telecom Tbk masih terkatung-katung. Sebagai alternatif, sang operator StarOne tersebut menawarkan pembagian kanal frekuensi layaknya yang dilakukan PT Telkom Tbk dan PT Mobile-8.Menanggapi solusi yang ditawarkan oleh Indosat, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menganggap kerjasama antar kedua operator tersebut bersifat business to business (B to B). "Jika memang salah satu pihak merasa tidak happy (dengan kondisi sekarang), sebaiknya sampaikan saja kepada regulator agar dapat diambil sebuah keputusan," ujar anggota BRTI Heru Sutadi pada detikINET, Jumat (6/10/2006).SVP Integrated Marketing & Loyalty Indosat Guntur Siboro mengatakan, jika kedua belah pihak sepakat dengan solusi yang ditawarkan dan regulator menyetujui, maka pembagian kanal frekuensi tak akan menjadi masalah. "Perjanjian kan dapat diubah jika memang diperlukan," kata Guntur usai berbuka bersama Manajemen Indosat dengan Wartawan di Jakarta, Kamis malam (5/10/2006).Pembagian kanal frekuensi diharapkan Indosat sebagai solusi alternatif jika proses integrasi sistem untuk menjalankan konsep Mobile Virtual Network Operation (MVNO) dengan Bakrie Telecom tetap mengalami stagnasi.Jika pembagian kanal frekuensi jadi dijalankan, menurut Guntur, yang menjadi tantangan hanyalah pembagian besaran kanal dan kompensasi bisnisnya. Hal itu, lanjutnya, berbeda dengan sistem MVNO yang mengharuskan integrasi sistem, dimana hingga kini belum juga berjalan. "Rasanya tidak salah kita meniru kerja sama antara Telkom dan Mobile-8 yang melakukan pembagian frekuensi. Namun, jika memang ingin menjalankan MVNO secepatnya, cara paling mudah dengan menggunakan satu sistem saja. Masalahnya di sini siapa yang akan mau mengalah membiarkan infrastrukturnya menganggur," jelasnya.Bagi Indosat, tambahnya, kerjasama dengan Bakrie Telecom harus cepat direalisasikan karena menyangkut eksistensi dari keberadaan layanan fixed wireless access-nya (FWA) di Jakarta. Pertumbuhan StarOne di Ibukota saat ini menjadi sangat lamban diakibatkan tidak adanya pembangunan infrastruktur oleh Indosat.Tiga KanalPerlu diketahui, kerjasama MVNO antar kedua operator telepon tetap nirkabel itu merupakan solusi yang diambil setelah pemerintah membenahi spektrum frekuensi pada 1.900 MHz untuk pergelaran layanan seluler generasi ketiga (3G).Dengan kerjasama itu, StarOne semestinya bisa berbagi pakai frekuensi 800 MHz yang ditempati layanan Esia untuk wilayah Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Begitu juga sebaliknya dengan Bakrie Telecom, operator itu juga semestinya bisa menggelar layanan dengan cakupan nasional, sesuai lisensi yang dimiliki Indosat StarOne. Guntur berharap, Indosat bisa mendapatkan tiga kanal atau setara dengan 5 Mhz seandainya pembagian kanal yang disepakati sebagai jalan keluar. Hal itu, lanjut dia, berkaitan dengan telah digelarnya layanan basis data Evolution Data Optimized (EVDO) yang memerlukan kanal sebesar 5 Mhz."Minimal untuk layanan data itu memerlukan dua kanal, sedangkan untuk basic telephony 1,25 MHz saja sudah cukup," kata Guntur lagi.Menanggapi penawaran Indosat, Direktur Corporate Services Bakrie Telecom Rakmat Junaedi mengatakan, solusi pembagian kanal antar keduanya belum perlu dijadikan sebagai alternatif"IOT (uji interoperabilitas -red) masih tetap bisa dilaksanakan. Kalau perlu kita tes lab di Cina kalau takut mengganggu operasional di sini," ujarnya ketika dihubungi detikINET, Jumat (6/10/2006).Ia juga mengatakan, bila solusi pembagian frekuensi yang dipilih, akan sangat menyulitkan pengembangan layanan Bakrie Telecom dikemudian harinya."Mau berapa besar yang dibagi? Kita cuma punya 10 kanal frekuensi, itu bisa nyenggol sana-sini. Teruskan saja yang MVNO dulu," pintanya.Rakhmat juga berharap pemerintah tetap menjunjung azas equal treatment dalam masalah ini dan perjanjian resiprokal yang telah disepakati antar kedua operator tersebut agar tetap dihormati. (rou)
(rouzni/rouzni)