Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Duh Speedy, Ekspatriat pun Gregetan

Duh Speedy, Ekspatriat pun Gregetan


- detikInet

Jakarta - Trent Wolodko, merasa kesal dengan kualitas dan layanan Speedy yang dipakai dikantornya. Pengusaha asal Kanada itu tak tahan untuk mengomentari layanan PT Telkom yang dinilainya buruk, salah iklan, dukungan yang tidak memuaskan dan tarif yang tidak masuk akal."Rasanya kesal. Saya datang dari negara di mana koneksi internet 25 kali lebih cepat, jauh lebih terjangkau dan tarifnya 10 kali lebih murah," papar Wolodko mengawali keluh-kesahnya yang disampaikan secara tertulis ke detikINET, Kamis (5/10/2006).Wolodko yang mendirikan usaha ekspor/impor di Jakarta, berlangganan Speedy sejak Juli 2005. Selama itu, diceritakannya bahwa koneksi Speedy pernah mengalami penurunan secara drastis, sampai pada kecepatan koneksi yang lebih buruk dari dial-up.Bahkan, dalam 6-8 bulan belakangan, Wolodko merasakan kecepatan koneksi pada jam-jam kerja sangatlah lambat. Diceritakannya, dia sampai harus menyesuaikan jadwal kerja. Untuk pekerjaan yang butuh koneksi internet, dia lakukan antara jam 23.00 sampai 05.00."Those are the only times during the day when I can achieve speeds anywhere close to what Telkom so boldly advertises on TV and in print," paparnya."Voice over IP during office hours? Video conferencing with clients/suppliers? Large file transfers? Media rich websites? Forget it... I'll be lucky if the connection to my mail server in the USA doesn't time out in the 10 to 15 minutes it takes downloading an email with a 1MB pdf attachment."Wolodko juga kesal dengan layanan customer service 147, yang hanya bisa minta maaf. "Keluhan-keluhan kita sepertinya tidak pernah didengar," ujarnya.Di akhir keluhannya, Wolodko menilai bahwa sebagai perusahaan milik negara, Telkom harus menyadari peran pentingnya dalam memajukan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia."Perusahaan memang harus mencari keuntungan, Telkom juga, tapi sebagai perusahaan milik negara yang memiliki hak monopoli, Telkom punya kewajiban untuk mengambil langkah-langkah positif dalam memajukan infrastruktur telekomunikasi.""Lihat di sekitar. Negara-negara tetangga berlomba-lomba mengupayakan konektivitas yang cepat dan murah. Sementara di sini masih sibuk berkutat dengan regulasi yang tidak kompetitif," keluh Wolodko. (nks) (ketepi/ketepi)







Hide Ads