Kominfo Jangan PHP di Lelang Frekuensi 2,1 GHz

ADVERTISEMENT

Kominfo Jangan PHP di Lelang Frekuensi 2,1 GHz

Agus Tri Haryanto - detikInet
Selasa, 30 Agu 2022 15:44 WIB
Logo Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).
Belajar dari Lelang Frekuensi 2,3 GHz, Kominfo Jangan PHP di Lelang Frekuensi 2,1 GHz. Foto: detikINET/Agus Tri Haryanto
Jakarta -

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) membuka lelang frekuensi 2,1 GHz. Belajar dari pengalaman sebelumnya, Kominfo agar tidak mengulangi kesalahan pada lelang frekuensi 2,3 GHz.

Sebelumnya, pada 20 November 2020, Kominfo buka lelang frekuensi 2,3 GHz rentang 2360-2390 MHz untuk keperluan penyelenggaraan jaringan bergerak seluler. Saat itu, lima operator seluler, Hutchison 3 Indonesia (Tri), Indosat Ooredoo, Smartfren, Telkomsel, dan XL Axiata. Dalam perjalanannya, Indosat Ooredoo menyatakan mundur dan XL Axiata tidak lolos administrasi.

Lelang frekuensi 2,3 GHz kala itu diperuntukan satu operator seluler satu blok dengan masing-masing lebar pita 10 MHz. Alhasil Tri, Smartfren, dan Telkomsel yang jadi peserta terakhir jadi pemenangnya.

Dengan alasan kehati-hatian dan kecermatan dari Kominfo berkaitan dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Informatika, khususnya PP Nomor 80 Tahun 2015, proses lelang frekuensi 2,3 GHz yang sudah ada pemenangnya itu akhirnya dibatalkan.

"Pemerintah tidak boleh mentolelir adanya kesepakatan harga lelang di antara peserta. Prosedur lelang harus dilakukan dengan cara yang seksama dan seteliti mungkin," ujar Akademisi ITB Ridwan Effendi, Selasa (30/8/2022).

Adapun, objek seleksi pengguna di pita frekuensi 2,1 GHz yang dilelang terdiri atas 1 (satu) blok pita frekuensi sebesar 5 MHz FDD (10 MHz) pada rentang 1.975-1.980 MHz berpasangan dengan 2.165-2.170 MHz dengan cakupan wilayah layanan nasional.

Sebagai informasi, blok kosong spektrum yang akan diperebutkan para operator seluler itu nantinya merupakan hasil pengembalian frekuensi dari Indosat Ooredoo dan Hutchison 3 Indonesia (Tri) ke negera usai sepakat merger menjadi Indosat Ooredoo Hutchison pada akhir tahun 2021.

"Yang pasti lelang frekuensi 2,1 GHz ini harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk negara, kesehatan industri, dan persaingan yang sehat, serta bagi masyarakat umumnya," ungkap mantan Komisioner BRTI tersebut.

"Untuk negara tentunya harus memberikan tambahan pendapatan yang cukup, berupa up front fee 2x BHP (Biaya Hak Penggunaan-red). Untuk kesehatan industri tentunya diharapkan semakin menyehatkan persaingan usaha. Untuk masyarakat harus memberikan kesemaptan menikmati layanan yang lebih baik," tutur Ridwan.

Diberitakan sebelumnya, seleksi pengguna pita frekuensi 2,1 GHz ini dinyatakan terbuka untuk diikuti seluruh penyelenggara jaringan bergerak seluler sepanjang memenuhi ketentuan sebagaimana dipersyaratkan di dalam dokumen seleksi.

Telkomsel, XL Axiata, Indosat Ooredoo Hutchison, dan Smartfren mengungkapkan ketertarikan untuk memperebutkan satu blok kosong dan bertarung di lelang frekuensi 2,1 GHz tersebut.



Simak Video "Daftar Situs Judi Berkedok Game Online yang Diblokir Kominfo"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT