Peluang IndiHome Mentransformasi Digital Indonesia

ADVERTISEMENT

Peluang IndiHome Mentransformasi Digital Indonesia

Inkana Izatifiqa R Putri - detikInet
Jumat, 26 Agu 2022 20:45 WIB
Transformasi Digital
Foto: Indihome
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada Mei 2022 menargetkan adanya peningkatan digital ekonomi melalui transformasi digital nasional lebih dari 2 kali lipat, dari USD 70 miliar di 2021 menjadi USD 146 miliar pada 2025. Sementara data pada tahun 2020, digital ekonomi tumbuh dari USD 47 miliar ke tahun 2021 menjadi USD 70 miliar atau naik 49%.

Menyoroti hal ini, Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), Sarwoto Atmosutarno menyampaikan target ini tidak mungkin dicapai tanpa dibarengi infrastruktur bandwidth internet yang memadai.

Berdasarkan data Mastel, tingkat konsumsi bandwidth per device bulan Juli 2022 tercatat lebih sekitar 20GB/bulan/device untuk FBB (Fixed Broadband) dengan tingkat ARPD (Average Revenue per Device) k.l. Rp 18.000/device/bulan. Sementara untuk MBB (Mobile Broadband), jumlahnya tercatat kurang dari 10GB/bulan/device dengan ARPD (User) kurang lebih Rp 36.000/bulan.

"Dari angka di atas jelas menggambarkan akses internet stasioner lebih murah dan lebih banyak volume dikonsumsi daripada akses mobilitas. Masih terbuka ruang bagi FBB, seperti IndiHome dan lainnya dan MBB, seperti Telkomsel, Indosat, XL dan lainnya untuk memperbesar skala bisnisnya sampai ditemukannya keseimbangan menuju titik Fixed Mobile Convergence," ujar Sarwoto dalam keterangan tertulis, Jumat (26/8/2022).

Meski demikian, Sarwoto menyebut kinerja FBB dan MBB tersebut perlu menjadi catatan lantaran masih berada dalam pusaran yang mengkhawatirkan. Hal ini disebabkan oleh data yield harga bandwidth internet atau harga bandwidth per GB masih termasuk kategori termurah di dunia (lebih rendah dari USD 0,4/GB). Menurutnya, kondisi tersebut tentu akan berpengaruh kepada sustainability bisnis para penyelenggara jaringan atau operator telcos.

"Target harga layanan bandwidth internet sebesar 0,29% dari PDB (Produk Domestik Bruto) per kapita sudah saatnya dihitung ulang dalam rangka target ekonomi digital. Jelas sudah saatnya sustainability telcos perlu mendapat dukungan serius dari pemerintah, setelah lebih dari 30 tahun sektor ini dilepaskan ke mekanisme pasar. Pemerintah sudah tidak mampu lagi sendirian menyediakan bandwidth internet untuk rakyat," lanjutnya.

Pemanfaatan Bandwidth Internet

Terkait pemanfaat bandwith internet, Sarwoto mengungkapkan snapshot total konsumsi bandwidth di IndiHome tercatat lebih dari 30 PB (PetaByte)/bulan. Dari catatan tersebut, tahun ini konsumsi bandwidth internet masih didominasi oleh pemakaian content video 56,2% dan sosial media 28,2% atau total kurang lebih 84%. Data ini menunjukkan pemanfaatan internet lebih mengarah ke perilaku konsumtif daripada produktif.

"Terbukti pemakaian bandwidth untuk akses e-Commerce hanya 2,8%, transport 0,11%, edukasi 0,015%, banking and finance 0,035%, dan konsumsi untuk akses ke e-Government/SPBE (Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik) di bawah 0,001%! Ini jelas secara menyeluruh menunjukkan inefisiensi pemanfaatan bandwidth internet," katanya.

Sarwoto menambahkan konsumsi internet masih murah dan kurang produktif dalam pemanfaatan. Padahal, ekonomi digital ditargetkan tumbuh pesat, bahkan diharapkan naik 25% per tahun sampai dengan tahun 2025.

Klik halaman selanjutnya >>>

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT