Indonesia Ditunggu di Festival Film Portabel Internasional
- detikInet
Jakarta -
Festival film portabel internasional akan berlangsung bulan September 2006 di Australia. Peserta dari Indonesia diharapkan peran sertanya, mengingat posisi Indonesia sebagai salah satu pasar film terbesar di dunia.International Portable Film Festival (IPFF) merupakan festival film-film independen yang akan diputar atau bisa ditonton di layar perangkat portabel seperti ponsel 3G, pemutar MP3 (iPod Video), konsol game (PSP), dan lain sebagainya."Kami berharap ada film-film dari Indonesia yang ikut festival ini," kata Simon Goodrich General Manager IPFF, dalam e-mailnya kepada detikINET, Senin (22/5/2006). "Sebagai salah satu pasar film terbesar di dunia, Indonesia punya beragam budaya. Pendaftaran ditutup 30 Juni, kami tunggu film dari Anda," ungkapnya.IPFF menargetkan peserta dan penonton dari berbagai negara di seluruh dunia. Cindy Chandra, Communication Coordinator of Indonesia dari IPFF mengatakan, pihaknya mengharapkan ada 100 film yang lolos seleksi, untuk ditampilkan saat festival. Cindy mengatakan, sampai saat ini sudah terkumpul sejumlah film dari beberapa negara seperti Amerika, Kanada, Belanda dan lain sebagainya. Pada saat berlangsung, panitia akan menyiapkan tempat-tempat di mana film-film bisa didownload secara nirkabel melalui bluetooth. "Sejumlah bluecasting point akan dipasang di tempat-tempat ramai di Melbourne, Sydney dan Adelaide," ungkap Cindy.Ajang BudayaPenyelenggara menyebut festival ini sebagai kegiatan budaya. Tujuannya tidak hanya untuk menciptakan konten baru yang inovatif, tapi juga menggugah penonton untuk berpikir lain tentang film. "Jadi, film kini tak hanya bisa ditonton di bioskop atau dari layar TV di ruang keluarga, tapi juga dari berbagai media, di berbagai tempat, dan bisa kapan saja penonton ingin," ujar Cindy.Ide festival ini muncul setelah peluncuran iPod Video Oktober 2005 lalu, yang menjadi inspirasi cara baru menonton film. Untuk dapat ditayangkan dalam media portabel, film-film peserta festival akan dikompresi sehingga kapasitasnya menjadi 10 Megabyte (MB), dari 700 MB pada umumnya. "Kompresinya memang akan mengurangi kualitas film. Tapi untuk di layar kecil (kurang dari 5 inch) hal itu tidak tampak," ungkap Cindy.Para pembuat film bisa ikut festival dengan terlebih dulu men-download aplikasi pendaftarannya di situs www.portablefilmfestival.com. Ada beberapa kategori yang dilombakan yaitu Desktop Experiment: yang mengeksplorasi metode dan bentuk pembuatan film; Postcard: film dokumentari pendek yang mengabadikan kejadian di kehidupan nyata; New World Order: film narasi yang memaparkan tatanan dunia baru; Watch My Moves: video klip musik yang menginspirasi genre baru dalam pembuatan film; Generational Eye: film-film dari peserta di bawah 18 tahun; Geberal: kategori umum untuk semua jenis film.Hak cipta film-film yang diikutkan dalam festival tetap ada di tangan peserta. Peserta diminta mengumpulkan karyanya dalam ukuran utuh, untuk nantinya dikompresi sebelum dipajang di situs. Film-film dalam festival bisa ditonton secara gratis. Para pemilik perangkat portabel cukup mengklik tombol 'subscribe' dari situs di atas. Bagi yang tidak punya perangkat portabel, film juga bisa ditonton melalui layar komputer. "Untuk tampilan terbaik pakai portable setting," Cindy mengimbau.Perkembangan TeknologiSebagai awal festival, IPFF diawali kompetisi bertajuk "Six Cities" yang berlangsung sejak Maret 2006. Kompetisi yang tengah berlangsung ini, merupakan ajang pertunjukan film portabel dari beberapa negara. Film-filmnya akan menjadi contoh atau panduan dalam festival nanti. Ajang Six Cities bisa dibilang ajang pemanasan sebelum festival dimulai. Film-film yang ikut dalam Six Cities adalah film pendek berdurasi dua menit, yang datang dari para peserta asal New York, Montreal, Tokyo, Melbourne, London, Vancouver dan Sao Paulo. Simon Goodrich optimis festival ini akan disambut antusias, baik oleh pembuat maupun penonton film. Mengutip data hasil riset, Goodrich menyampaikan sampai bulan Maret 2006, ada 65 juta pemilik perangkat portabel di seluruh dunia. "Mereka-mereka tentunya berpotensi jadi penonton film portabel ini. Belum lagi, ada 220 juta pelanggan internet broadband yang bisa mengakses konten video melalui situs," ujarnya.Film download diyakini akan menjadi data terbesar setelah suara, yang ditransmisikan lewat jaringan telepon seluler. Pada tahun 2010, industri film download diperkirakan mencapai US$ 7 miliar. Goodrich mengungkap bahwa di dunia ada sekitar 1.200 festival film, di mana terdapat lebih dari 750.000 karya per tahun, dan diakses oleh 10 juta penonton tiap tahunnya. (nks)(Catatan Redaksi:Bagi pemberi komentar, mohon tidak mengisi kolom nama dengan kata/kalimat yang tak lazim sebagai nama orang. Nama samaran diperbolehkan. Pengisian nama dengan nama milik orang lain (public figure), alamat situs, merek, nama institusi tertentu dan/atau cenderung vulgar/ofensif/SARA, tidak diperkenankan.)
(ketepi/)