Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Catatan Perjalanan ke Amerika
Kabayan Saba Las Vegas, Aya Wireless Euy...
Catatan Perjalanan ke Amerika

Kabayan Saba Las Vegas, Aya Wireless Euy...


- detikInet

Jakarta - Pengantar:Tulisan ini adalah catatan Michael Sunggiardi, aktifis dan peneliti Internet wireless Indonesia, ketika ke Amerika minggu lalu dalam rangka mengikuti serangkaian acara forum wireless. Catatan Michael akan disampaikan dalam dua seri. Tulisan ini adalah seri pertama, dengan judul asli "Si Kabayan Saba Kota". Berikut catatannya:Perjalanan panjang Jakarta - Los Angeles, sepertinya di skip saja ceritanya, karena sangat melelahkan dan membosankan, walaupun punya kesempatan untuk menonton 60 film, beberapa diantaranya baru seperti King Kong dan lainnya. Setibanya di LAX, sepertinya pemeriksaan tidak seketat empat tahun lalu, walaupun ada penambahan di imigrasinya, yaitu kita diambil sidik jari dan di potret dengan menggunakan kamera sejenis USB.Tujuan kepergiannya adalah Las Vegas, dimana saya akan menonton beberapa pameran teknologi disana (ada tiga pameran dalam tiga minggu, yaitu Broadband Wireless World Forum, NAB - National Association of Broadcasters dan Interop), setelah absen ke negara Paman Sam sejak 2002, karena pameran Comdex yang biasanya saya hadiri dari tahun 1995 di hentikan pada tahun 2003.e-TicketUntuk pergi ke Amerika, saya sudah melakukan booking hotel dan e-ticket dari Indonesia --melalui Internet, sehingga hanya membawa selembar print outnya. Sengaja ingin mencoba teknologi e-ticket pesawat US Airways, setara dengan e-ticket yang akan dikembangkan oleh Garuda dan sudah dijalankan di beberapa penerbangan dalam negeri.E-ticket di US Airways tidak tanggung-tanggung, karena calon penumpang yang sudah tiba di registration desk tidak lagi dilayani oleh manusia, tetapi seperangkat komputer yang siap menerima konfirmasi tiket kita. Cukup memasukan nomor konfirmasi, lalu secara otomatis komputer yang mirip mesin ATM akan mencetak boarding pass, sekaligus memeriksa berat bagasi yang kita bawa.Naik ke pesawat penerbangan lokal, kita harus melalui pemeriksaan, buka sepatu, ban pinggang, dan notebook diperiksa dengan menggunakan peralatan canggih yang berbentuk lap, lalu dimasukan ke mesin pengamat bahan-bahan kimia. Kembali lagi, pemeriksaan saat ini tidak terlalu ketat dibanding empat tahun lalu, pada saat tiket saya dikasih kode SSS, yaitu harus melalui pemeriksaan yang intensif.Pesawat US Airways yang di dalamnya ternyata Mesa Airways (yang di kontrak dan tetap meletakan semua logonya di informasi pesawat) merupakan pesawat terbang kecil, berpenumpang sekitar 80 orang, dilayani hanya oleh satu pramugara, yang pontang-panting menyapa melalui speaker dan memberikan minuman ke semua penumpang.Anehnya, di penerbangan lokal Amerika, mereka tidak menayangkan atau memperagakan cara menggunakan seat belt, pelampung dan masker udara, padahal jika kita terbang di seluruh Indonesia dengan pesawat apapun, mereka selalu menyebutkan "berdasarkan peraturan penerbangan internasional".JackpotSetibanya di Mc Carren Airport, Las vegas, denting mesin jackpot berderincing dan mereka menggunakan alat periksa yang canggih, dengan tanpa memasukan barang secara terpisah, tapi masuk lorong yang ditembaki oleh udara untuk memeriksa badan dan koper kita dari barang-barang terlarang.Dari bandara, langsung menuju hotel The Hooters yang terkenal dengan restoran dan cewek-cewek berpakaian seksi, dan jika Hooters dibuka di Indonesia, sudah pasti diberangus habis.Tujuan utama ke Las Vegas adalah mengunjungi kantor XRF, yaitu perusahaan wireless mesh network yang mengembangkan teknik nirkabel dengan bandwidth yang sangat besar, bisa menyalurkan bandwidth sampai 500Mbps pada perangkat yang mereka kembangkan.Dan bersamaan dengan kehadiran saya, ada rekan-rekan dari Singapore Mega Media yang sedang melihat demo bagaimana menyalurkan HDTV melalui udara dan akan segera dipasang di Singapura dalam waktu dekat.Teknologinya terletak pada alogaritma peranti lunak yang mereka kembangkan, karena di tim yang terdiri dari lima orang, semuanya terdiri dari jago-jago di bidangnya masing-masing. Setelah melihat cara kerja mereka, sebetulnya semua yang mereka lakukan sudah dilakukan di Indonesia sejak lima tahun yang lalu, hanya bedanya, kita tidak serius memikirkan aplikasi lanjutannya dan tidak punya resource yang lengkap.Ada ide terbesit, kita melakukan hal yang sama di Indonesia ini, sudah tentu dengan cara dan skala yang lebih masuk akal di kondisi Indonesia.WiMaxSaya tidak punya kesempatan untuk menonton NAB, karena waktunya bersamaan dengan meeting XRF dan langsung mengunjungi Broadband Wireless World Forum 2006 yang diselenggarakan di Caesars Palace dari tanggal 26 sampai 28 April 2006, dan sepertinya pameran dan seminarnya semakin lama semakin kecil, karena event ini terlalu spesifik ke teknologi wireless, ditambah lagi biaya masuk yang lumayan mahal.Sebagian besar bahan pembicaraannya adalah sekitar WiMAX melawan WiFi, dan semua pembicara setuju, bahwasanya WiFi tidak akan mati sebelum WiMAX bisa murah sampai seharga WiFi. Jumlah peserta yang hanya sekitar seratus stand pameran, dan seminar yang relatif mahal dan tidak banyak variasinya, sehingga tidak begitu membludak dan banyak pesertanya.Di dalam kesempatan ini, saya berkesempatan berkunjung ke stand WaveSAT yang merupakan satu-satunya chip set pembuat standar WiMAX yang sudah di sertifikasi oleh forum IEEE. Bersamaan dengan sertifikasi itu, beberapa produk sudah masuk dalam produksinya, seperti Trango, Mesh City dan terakhir XRF.Kesulitan mengikuti standar WiMAX adalah frekwensinya yang berbeda dari satu negara ke negara lain.Hal lain yang menarik, yaitu saya berkesempatan mendapatkan satu presentasi dari Microserv dari Idaho, yang berbasis toko komputer dan menceritakan keadaan yang sama persis seperti ISP yang saya jalankan di Bogor, dimulai 1995 dengan sistem dial up, kemudian menerapkan teknolgi wireless dengan jumlah anggotanya 2400+ dengan 25 staf dan pegawainya.Perbedaannya dengan perusahaan saya, mereka menggunakan peranti nirkabel yang ber-merk, Trango dan Lucent, sementara saya menggunakan peranti buatan Taiwan yang harganya murah-meriah dan jauh dibanding kedua merk tersebut.Setelah dua hari berputar-putar di ruang pameran dan ruang seminar Caesars Palace, hari berikutnya saya akan ke La Sierra dan San Diego untuk melihat penerapan teknologi XRF yang mereka bangga-banggakan. Seperti apakah kisah Michael "Kabayan" Sunggiardi di La Sierra dan San Diego? Baca lanjutannya esok hari...Catatan Redaksi:Bagi pembaca yang ingin memberikan komentar berita, mohon dapat mengisi kolom nama (name) dengan isian yang benar. Mengisi kolom nama dengan sebuah kata/kalimat lain yang tak lazim untuk peruntukan sebuah nama orang, maka komentar tersebut tidak dapat kami tayangkan. Menggunakan nama samaran diperbolehkan. Penggunaan nama milik orang lain yang termasuk tokoh masyarakat (public figure) ataupun nama institusi tertentu, sama sekali tidak diperkenankan. (donnybu/)





Hide Ads