Untuk Wimax, Frekuensi 3,5 GHz Dipermasalahkan
- detikInet
Jakarta -
Industri, pemerintah dan pelaku bisnis Wimax, belum memiliki kesatuan pendapat akan alokasi frekuensi yang digunakan. Tonda Priyanto, Ketua Asosiasi Satelit Indonesia, mengatakan bahwa pemakaian frekuensi 3,5 GHz untuk teknologi broadband wireless access (BWA), atau yang populer memakai teknologi Wimax, tidak tepat di Indonesia. Tonda mengatakan BWA sebaiknya di 2,3 GHz atau 5,8 Ghz. "Mungkin pakai 5,8 dulu, lagian kan nanti bisa interoperability," ujarnya di sela-sela acara Workshop dan Seminar Regulasi Broadband Wireless Access (Teknologi Wimax) di Gedung Sapta Pesona, Ditjen Postel, Selasa (25/04/2006). Sementara Amrullah Arifin, Technical Sales Manager PT Airspan Network Indonesia mengatakan bahwa Wimax di berbagai negara menggunakan frekuensi 3,5 GHz. "Dari Wimax Forum sudah mensertifikasikan perangkat yang bekerja di TDD dan FDD 3,5 Ghz. Perangkat yang sudah di-roll out itu di 3,5," ujarnya di acara yang sama. Tonda berpendapat, frekuensi 3,5 GHz banyak dipakai di negara lain yang jarang memakai satelit. "Kalau di negara lain yang pakai 3,5 itu jarang pakai satelit. Sedangkan di Indonesia, 3,5 itu cocok untuk S-Band, C-Band, Extended C-Band cocok karena Indonesia iklimnya tropis yang curah hujannya tinggi. Sehingga satelit bisa tembus meskipun hujan," ungkapnya.Dia menambahkan, di Indonesia satelit diperlukan karena merupakan negara kepulauan. "Kebanyakan yang pakai 3,5 di Wimax itu negaranya bukan kepulauan," imbuhnya.Tonda mengatakan frekuensi Wimax di 3,5 GHZ tidak mungkin dilakukan di Indonesia karena sudah digunakan untuk fixed satellite services. Frekuensi 3,5 GHz menurutnya tidak bisa dibagipakai, karena dikhawatirkan bisa menimbulkan interferensi. Tonda, yang juga General Manager Satelit PT Telkom, mengatakan ada beberapa poin yang perlu diperhatikan pemerintah. Pertama, SK Dirjen/119/2000 tentang Frekuensi Sharing Satelit dan Teresterial di Band 3,5 GHz, menurutnya perlu dikaji ulang. Kedua, pemerintah juga dinilai perlu mengalokasikan frekuensi Broadband Wireless Access di luar frekuensi satelit. "Sehingga satelit dan BWA dapat berkembang bersama dan dapat digunakan untuk mengisi kebutuhan di daerah terpencil," ujarnya. Skala EkonomiSementara bagi Budi Wahyu Jati, country manager Intel Indonesia, akan lebih murah kalau Wimax dikembangkan di 3,5 GHz. Sementara jika di 5,8 GHz akan lebih mahal, meski sebenarnya pihaknya tidak mempermasalahkan kalau memang Wimax harus di frekuensi itu. "Dari segi economic scale ya di 3,5 karena banyak vendor yang produksi itu." ujar Budi. "5,8 bisa, cuma economic scale-nya bagaimana? Yang pakai 5,8 cuma Amerika Serikat doang," paparnya.Untuk menghindari interferensi di frekuensi 3,5 GHz, Budi menekankan adanya alat bernama Box filtering untuk isolasi frekuensi. "Tapi dengan menambah alat itu, jadi mahal perangkat Wimaxnya. Nanti jatuhnya ke masyarakat mahal," tutur Budi. Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar, dalam komentarnya tidak mengindikasikan di frekuensi mana Wimax akan dikembangkan. Menanggapi permintaan vendor untuk mengimplementasikan Wimax di frekuensi 3,5 GHz, Basuki menjawab bahwa itu hanya masalah bisnis. "Itu kan maunya vendor. Namanya bisnis, jualan ya seperti itu. Apa setiap barang jualan meski kita beli?" ujar Basuki.Lebih lanjut, Basuki mengatakan bahwa sharing di frekuensi 3,5 GHz harus dilakukan secara disiplin. "Sharing sih bisa, cuma harus disiplin. Kalau nggak, bisa mengganggu satelitnya. Umumnya yang terjadi kan tidak pada disiplin. Terlalu prematur kalau kita nentuin 3,5 bisa di-sharing atau tidak, secara teknis bisa tapi kewajiban sosialnya sangat tinggi," tutur Basuki. (nks)
(ketepi/)