Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
'Wimax, Menjauhlah dari Frekuensi Satelit!'

'Wimax, Menjauhlah dari Frekuensi Satelit!'


- detikInet

Jakarta - Dirut dan CEO PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) dan Asia Cellular Satellite (ACeS), Adi Rahman Adiwoso, meminta frekuensi satelit 3,5 GHz tidak diganggu gugat oleh Wimax. Apa pasal?"Kita orang satelit tidak setuju Wimax pakai 3,5 GHz," kata Adi di PlanetBiz Cafe, Jakarta, Selasa (21/3/2006). "Bila Wimax tetap memaksa menggunakan frekuensi itu, meskipun hanya di layer secondary, sinyalnya tetap saja bisa melumpuhkan satelit yang menghuni frekuensi tersebut. Tidak hanya satu, tapi seluruh satelit yang beroperasi di frekuensi itu," ujarnya menambahkan.Lagi pula, menurut dia, frekuensi itu sudah sejak dulu dialokasikan untuk operasional satelit dan sudah disesaki oleh banyak pemain. Menurutnya sudah ada sekitar 20 pemain yang 60 persennya dikelola oleh asing."Frekuensi 3,5 GHz itu frekuensi downlink, dari atas ke bawah, dari satelit ke bumi. Itu sinyal yang baru menempuh jarak 35.000 KM kan lemah, jadi kalau dihajar dari bawah sama teresterial bisa bablas, mati," klaimnya.Alasan lain yang dikemukakannya tentang status quo frekuensi 3,5 GHz untuk satelit, yakni disebabkan oleh penggunaan frekuensi untuk C Band dan Extended C Band yang dianggap pas dengan iklim hujan dan tropis di Indonesia. C Band pun menurutnya hanya bisa cocok berjalan di 3,5 GHz. Bos PSN itu juga menolak tegas bila penggunaan C Band dikatakan tidak efisien. "Sedangkan frekuensi untuk C Band dan Extended C Band dari rentang 3,4 GHz hingga 4,2 GHz sudah penuh," kata Agus B. Tjahjono, Ass. VP Marketing and Head of Fixed Satellite Services PSN.Seperti dikatakan Adi, filing pendaftaran orbit dan frekuensi Indonesia di serikat telekomunikasi internasional (ITU) umumnya adalah C Band. "Berdasarkan filing yang sangat mahal, serta koordinasi satelit yang sulit, maka C Band dan Extended C Band seharusnya dimaksimalkan, bukannya dikurangi."Dampak KerugianMenurut Adi, dari 20 satelit yang ada di Indonesia, masing-masing mengeluarkan sekitar US$ 20 juta untuk biaya satelit. Dan bila ditotal mencapai US$ 4 miliar. "Lalu ditambah dengan stasiun buminya, taruhlah US$ 2-3 miliar, sudah US$ 6 miliar investasinya. Apa Wimax berani ganti segitu?" ujarnya.Sedangkan Agus mengatakan, satelit yang dimiliki oleh Telkom sebanyak 36 transponder juga menggunakan frekuensi 3,5 GHz. Dengan kenyataan seperti itu, menurut dia, apa Wimax masih tetap akan dipaksakan nebeng di frekuensi tersebut meskipun dalihnya demi skala ekonomis."Kalau dilihat dari segi ekonomisnya, dari kacamata siapa. Tolong diperhitungkan lagi investasi US$ 6 miliar yang sudah dikeluarkan," tukasnya. "Belum lagi kita mesti mengeluarkan puluhan ribu dolar pada 23 negara tiap tahun," tambahnya.Pakai 3,3 atau 5,8 Saja"Kalau untuk satelit kan pilihan frekuensinya sedikit, sedangkan Wimax masih banyak. Bisa di 3,3 GHz atau 5,8 GHz. Rentangnya masih lebar, jadi kalau mau cari yang ekonomis jangan di 3,5 GHz, di tempat lain saja," kata Adi.Menurutnya, di negara asal Wimax, AS, frekuensi yang dipakai adalah 5,8 GHz. Sedangkan di Hongkong, meski negara itu menggunakan 3,5 GHz, namun mereka lebih cenderung memilih infrastruktur teresterial seperti fibre optic, kabel, dan lainnya.Satelit DibutuhkanSelain itu, menurut Adi, pertumbuhan pelanggan seluler yang tumbuh pesat tiap tahunnya, membutuhkan satelit untuk mendukung infrastruktur teresterial seperti base station."Saat ini pertumbuhan pelanggan seluler rata-rata 10-15 juta per tahun dan membutuhkan 3-5 ribu BTS dengan kapasitas 3 juta subscriber per BTS," papar Adi.Menurutnya, untuk memenuhi kebutuhan itu, teresterial hanya mampu menangani sekitar 90 persen saja. "Sedangkan satelit memenuhi sekitar 5-10 persen, atau sekitar 150-300 E1-Link satelit yang harus disiapkan oleh satelit. Lagipula melihat kondisi Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, mengandalkan teresterial saja tidaklah cukup," imbuhnya.Dari situ menurutnya bisa dilihat bahwa Indonesia membutuhkan lebih dari 20 transponder per tahun untuk memenuhi kebutuhan seluler tersebut. "Sekarang saja semua satelit sudah penuh. Padahal Indonesia masih perlu 100 transponder lebih hingga 2014," katanya.Selain untuk memenuhi kebutuhan seluler, satelit menurutnya juga dibutuhkan untuk kebutuhan lain seperti akses internet dan layanan TV berbayar Direct to Home. (rou) (rouzni/)







Hide Ads
LIVE