Bisa Singgung Privasi
66% Trafik Internet adalah P2P
- detikInet
Jakarta -
Tahukah siapa sebenarnya penghabis bandwidth internet terbesar secara global? Jawabnya adalah trafik peer to peer (P2P). Trafik P2P yang dimaksudkan di sini adalah trafik yang dihasilkan dari aplikasi file sharing dan bekerja secara unicast sehingga 'lapar' bandwidth. Fakta itu terungkap dalam paparan yang disampaikan oleh Lior Gendel dari Cisco Corp. dan Teruyuki Hasegawa dari KDDI Laboratories Inc. - Jepang dalam dalam acara APRICOT di Australia belum lama berselang. Fakta tersebut cukup menarik dan membuka mata, bahwa P2P aplikasi benar-benar mendominasi trafik internet. P2P ini biasa digunakan pengguna internet untuk melakukan download file berukuran besar seperti film, MP3, game, gambar, dan lainnya. Berdasarkan laporan tersebut, secara keseluruhan penggunaan bandwidth internet secara global untuk P2P 66%, sedangkan sisanya seperti browsing 11 %, video streaming 4%, transfer file 2%, e-mail 1% dan voice 1%. Menurut Susetio Wibowo, Network Consultant Praweda, fakta ini cukup menarik meski sudah dapat diduga sebelumnya. Namun untuk kondisi di Indonesia, dia belum yakin bahwa akan sama kondisinya. "User Indonesia belum banyak yang rumahan. Lain dengan di Eropa, Amerika, dan Jepang yang harga bandwidth relatif murah dengan bandwidth yang besar sekali. Kalaupun ada di kantor, pengguna Indonesia sebagian dibatasi bandwidth-nya," ujar Bowo kepada detikINET, Selasa (14/3/2006) Dijelaskan Bowo, sejarah aplikasi P2P ini juga cukup panjang sejak ditemukannya Napster pada tahun 1999. Pada tahun 2001 beberapa perusahaan yang menciptakan aplikasi illegal ini seperti Kazza, Morpheus dan Grokster pernah dituntut oleh industri film dan musik karena sangat merugikan industri ini. P2P aplikasi saat ini ada yang sudah legal dimana pada tahun 2006 Warner Bros dan Bartelsmann merilis layanan P2P Movie di Jerman. Tantangan Ditambahkan oleh Bowo, karakter dari aplikasi P2P ini adalah file sharing dengan ukuran yang sangat besar, kebutuhan bandwidth yang simetrik untuk upload dan download, cenderung beroperasi 24 jam dan trafik tersebar alias tidak terpusat. Belum lagi penularan virus yang terjadi akibat aplikasi ini.Yang kemudian menjadi tantangan para Internet Service Provider (ISP) adalah bagaimana mengurangi dan melokalisasi penggunaan bandwidth yang disebabkan oleh aplikasi P2P ini. "Ada beberapa solusi untuk melakukan itu, yaitu dengan melakukan deep-packet inspection, blocking, shapping dan caching," kata Bowo. Menurut lelaki yang cukup aktif mengikuti berbagai pelatihan di luar negeri ini, cara pertama, yaitu deep-packet inspection, dapat menimbulkan kontra dari sisi pengguna internet, karena akan bersinggungan dengan privasi pengguna internet. "Adapun cara kedua (blocking - red.) tidak mungkin dilakukan oleh ISP. Cara paling efektif adalah dengan melakukan shapping dan caching sehingga trafik P2P tersebut dapat mengurangi bandwidth interdomain ISP," tandasnya. (sap)
(donnybu/)