Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Laporan dari Australia
APRICOT, Impian Para Engineer
Laporan dari Australia

APRICOT, Impian Para Engineer


- detikInet

Perth - Bagi engineer internet, event seperti APRICOT adalah impian. Namun karena selama ini gelarannya selalu di luar Indonesia, soal biaya menjadi masalah. Maka bila digelar di Bali, kesempatan baik bagi para engineer Indonesia."Kalau jadi di Bali, ini kesempatan emas para tukang TI (teknologi informasi-red) untuk ikut," kata Sugeng Rohmadi, dari Prawedanet, Rabu (1/3/2006) kepada wartawan detikINET, Sapto Anggoro di arena APRICOT 2006, Perth, Australia. "Tapi jangan lupa, nanti panitia harus banyak memberikan fellowship dan memperhatikan mahasiswa," kata Sugeng.Sebagai engineer sekaligus konsultan TI, Sugeng memang sudah 4 kali mengikuti APRICOT. Yakni di Perth, Kyoto, Kuala Lumpur, dan Taipei. Menurut Sugeng, banyak hal yang didapat dari event ini. Antara lain lewat acara yang digelar di APRICOT, yang mengambil bentuk conference, tutorial, workshop yang langsung tersambung dengan laboratorium (hands on).Menurut Sugeng, para peserta tidak hanya mendapatkan konsep tentang teknis dalam hal internet, tapi langsung mendapat tutorial dari pakar yang sudah banyak membuat buku-buku tentang teknologi internet dan sudah di-deploy serta teruji. Dengan demikian, bisa memperkecil kesalahan dalam upayanya memberikan konsultansi dan audit TI menjadi lebih efektif.Antara lain yang dibahas adalah soal IPv6, VoIP, routing, DNS operation dan lain-lain. Hal ini lebih efektif lagi karena bisa sharing dengan peserta maupun tutor ditunjang adanya SIG (special interest group/kelompok minat). "Kita juga bisa melakukan networking dengan mereka yang bisa membantu kita bila ada masalah atau kesulitan dalam operation pekerjaan," kata Sugeng.Fellowship dan MahasiswaBiaya untuk mengikuti workshop, tutorial dan lain-lain di APRICOT ini sekitar US$ 500. Barangkali bagi ISP kecil, namun untuk mahasiswa akan terasa mahal. "Maka nanti kalau digelar di Indonesia, diperbanyak subsidi untuk fellowship misalnya ISP kecil dan mahasiswa. Atau kalau perlu dengan harga khusus," kata Sugeng. Maksudnya, ujar Sugeng, agar para engineer Indonesia makin banyak dan internet Indonesia semakin cepat tumbuh. Hal senada disampaikan Arief Purwanto dari Datacomm Telkomsel, Herlianto dari Indosat, dan Iskandar Satyogo Prasetyo dari Telkom yang juga hadir di APRICOT 2006."Kalau di Indonesia kan biayanya lebih murah, dari Indosat mungkin akan mengirim lebih banyak," kata Herlianto yang bersama rekannya dari Indosat sebanyak 4 orang engineer. "Paling tidak, tidak keluar biaya fiskal, ongkos tiket pesawat bisa lebih murah, dan bisa mencari tempat penginapan yang terjangkau."Bagi Satyogo, engineer dari Telkom, workshop yang langsung berhubungan dengan perangkat fisik merupakan hal penting. Satyogo mengakui, dari pengalamannya, ilmu yang didapat di APRICOT selalu update dan implementatif. "Event seperti ini bagi engineer itu sangat penting dan perlu. Orang seperti kita pasti akan rame-rame ke Bali nanti kalau APRICOT digelar di sana," ujarnya. "Sebab, siapa sih engineer internet yang tidak kepingin ikut workshop yang langsung praktek dengan perangkat fisik?" Satyogo, yang sudah dua kali mengikuti acara ini, melanjutkan. Di setiap workshop APRICOT berbentuk kelas yang dihadiri sekitar 25-35 orang. Semuanya membawa notebook memakai Wifi. Selalu ada seorang tutor dan dua pendamping tutor, yang disebut proctor, sehingga workshop pun lebih intensif. Selain workshop langsung, APRICOT conference juga menarik karena membahas soal kebijakan teknologi informasi di dunia. Selain itu juga soal perkembangan teknologi yang semakin konvergen sehingga memerlukan antisipasi yang benar. (sap/wsh) (wicak/)




Hide Ads