Australia Tak Setuju Apricot 2007 di Bali?
- detikInet
Jakarta -
Setelah memperjuangkan selama lebih dari 4 tahun untuk menjadi penyelenggara Asia Pacific Regional Internet Conference on Operational Technlogies (Apricot), Indonesia akhirnya dipercaya untuk menjadi tuan rumah pada tahun 2007 di Bali. Namun muncul isu bahwa Australia kemungkinan tidak menyetujui pelaksanaan Apricot di Bali.Seperti disampaikan Sapto Anggoro, Kepala Bidang Kemitraan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Australia sampai saat ini masih menganggap Bali sebagai salah satu kawasan yang tidak aman.Tahun ini Australia menjadi tuan rumah Apricot 2006, menggantikan India yang mengundurkan diri. Apricot tahun ini berlangsung di Perth, 26 Februari sampai 3 Maret. Ketua Umum APJII Sylvia Sumarlin, akan memimpin delegasi Indonesia untuk mengikuti ajang pertemuan para pelaku di industri internet dari kawasan Asia Pasifik itu.Selain untuk mengikuti event tahunan tersebut, menurut Sapto, delegasi Indonesia juga mengemban misi untuk mempertahankan Bali sebagai tuan rumah pelaksanaan Apricot, pada Februari 2007 mendatang."Di tengah upaya melakukan berbagai persiapan, muncul isu tidak sedap. Australia kemungkinan tidak menyetujui pelaksanaan di Bali berkaitan dengan isu keamanan," papar Sapto yang disampaikan secara tertulis, Selasa (21/2/2006). "Pemerintahan negeri Kanguru pun saat ini masih memberlakukan Bali sebagai salah satu kawasan RI yang dalam status dilarang dikunjungi (travel warning)," imbuhnyaSebelumnya, Indonesia pernah mendapat kepercayaan untuk menjadi tuan rumah Apricot setelah melewati tiga kali proses lelang di Tokyo, Jepang pada Maret 2005. Saat itu, calon lain yang juga berniat jadi tuan rumah adalah Australia, Korea Selatan, dan Selandia Baru.Perjuangkan BaliApricot 2007 menjadi sangat penting bagi Indonesia, karena pengoperasian dan penggunaan internet masih jauh dari harapan, dan perlu didorong dengan serius untuk peningkatannya. Lewat ajang ini, ratusan pengusaha jasa internet, teknisi dan staf teknologi informasi perusahaan di Indonesia, berkesempatan mendapat pengetahuan dan menimba pengalaman, dengan biaya yang lebih terjangkau dibandingkan mengikutinya di luar negeri. "Disamping itu, karena mendatangkan ratusan peserta dari luar negeri, tentu membawa dampak positif bagi dunia pariwisata Indonesia dan mendatangkan devisa bagi negara," uangkapnya.Dalam 10 tahun berlangsungnya Apricot, Indonesia belum sekalipun pernah menjadi tuan rumah. Dalam 2 kali mengikuti lelang, Indonesia belum pernah dipercaya karena menyangkut masalah keamanan. Bahkan setelah ditunjuk sebagai tuan rumah tahun 2007 pun, dalam setahun terakhir ini Indonesia masih disorot soal yang sama.Delegasi Indonesia nanti antara lain terdiri dari Sylvia W. Sumarlin (Ketua Umum APJII), I Wayan Toni dan Ismail (Ditjen Postel-Depkominfo), John Sihar Project Manager Apricot Bali 2007), serta wakil dari Departemen Luar Negeri, dan dari penyelenggara jasa internet. "Secara bersama bahu-membahu, kita semua harus berusaha agar ini tidak lepas lagi dari tangan Indonesia, sehingga Apricot 2007 yang dijadwalkan tanggal 21 Februari - 2 Maret 2007, tetap dapat berlangsung di Bali," kata Sylvia. Rombongan delegasi ini akan berusaha meyakinkan para petinggi dan delegasi negara-negara anggota Asia Pacific Network Information Centre (APNIC) yang juga mengirimkan timnya ke Perth, Australia. Apricot biasanya dihadiri 40-an negara di Asia Pasifik. Rata-rata hadir 700-an peserta. Di Taiwan tahun 2003 bahkan dihadiri oleh lebih dari 1.000 peserta.Dua sasaran utama yang ingin dicapai adalah pertama, menyebarkan dan berbagi pengetahuan yang dibutuhkan untuk kestabilan dan pengembangan pengoperasian Internet di kawasan Asia Pasifik. Kedua, membangun kelompok minat yang saling memberi dukungan dan berkesinambungan sepanjang tahun. (nks)
(ketepi/)