Catatan dari Aceh
Duet Tabina - Air Putih Mulai Berbuah
- detikInet
Aceh -
Prospek pertumbuhan pengguna Internet di Aceh cukup menjanjikan. Bahkan pasca prahara Tsunami lebih dari setahun silam, jumlah penggunanya mengalami peningkatan yang signifikan. Demikian salah satu kesimpulan yang didapat ketika penulis berdiskusi dengan pengelola Internet Service Provider (ISP) Tabina, Minggu (19/2/2006).Eriadi, pemilik Tabina, menjelaskan bahwa ketika Tsunami meluluh-lantakkan Aceh, dirinya sempat gamang untuk meneruskan usahanya yang berlokasi di Jalan Teuku Umar, persis berseberangan dengan posko tim relawan Air Putih.Diungkap oleh Eriadi, bahwa kondisi di Aceh sesaat setelah Tsunami terjadi, tidak terbayangkan olehnya Bahkan waktu itu perangkat Internet milik Tabina sudah masuk di truk, siap dipindahkan ke Medan.Kegalauan Eriadi tersebut ketika itu bukannya tak beralasan. Dua orang pegawai Tabina yang sehari-hari melakukan perawatan teknis di Aceh, hingga kini tak pernah dapat ditemukan. Diduga turut menjadi korban Tsunami.Duet Tabina - Air PutihTim pertama relawan Air Putih pun mendarat di Aceh, selang beberapa hari setelah Tsunami terjadi. Hanya berbekalkan antena VSAT seadanya, tim Air Putih merasa bahwa kebutuhan Internet di Aceh tidak akan dapat terpenuhi. Kemudian mereka melihat bahwa perangkat Tabina siap diberangkatkan ke Medan. Segera saja, Anjar Ari Nugroho dan Valens Riyadi, keduanya dari Air Putih, segera melakukan lobi kepada Tabina. Walhasil, Tabina akhirnya mengijinkan Air Putih untuk memasang kembali seluruh perangkat pada tempatnya.Saat itu ada proses pemasangan kembali memakan waktu sekitar dua harian. Sebab sudah tidak lagi tim teknis Tabina di Aceh, sehingga tim Air Putih memasang perangkatnya dengan dipandu secara remote menggunakan telepon oleh Rizaldy Syahputra. Saat itu lokasi Rizaldy, sebagai penanggung-jawab teknis Tabina, masih terjebak di Medan. Saat itu PT Citra Sari Makmur (CSM), yang layanannya digunakan oleh Tabina, menggratiskan bandwidth Internet selama tiga bulan untuk Aceh menggunakan satelitnyaAnjar pun menjelaskan bahwa berhubung listrik mati total, maka pada hari-hari pertama Tabina beroperasi kembali, andalannya adalah dua buah mesin genset yang dihidupkan bergantian selama 24 jam.Keadaan suasananya mencekam, demikian digambarkan oleh Anjar. Mereka harus bergiliran menjaga agar Internet tetap hidup, dengan kondisi sekitar kantor Tabina yang dipenuhi oleh jenazah yang tak terangkut setelah beberapa hari diketemukan oleh tim relawan kemanusiaan.Duet antara tim Tabina dan tim Air Putih tersebut ketika itu ternyata dirasakan manfaatnya oleh berbagai pihak. Salah satunya adalah oleh media massa dan tim relawan, dalam maupun luar negeri, yang biasa mangkal di pendopo, kantor gubernur Aceh.Pemasangan perangkat wireless yang menghubungkan Tabina dengan pendopo, posko PMI dan beberapa titik lain menjadi prioritas utama mereka. Lalu di tempat tersebut dipasang akses hotspot. Sehingga siapapun bisa langsung terhubung dengan dunia luar menggunakan Internet.Dan yang pasti, akhirnya proses koordinasi dan penyampaian informasi tentang kondisi Aceh dari hari ke hari, dapat terbantukan dengan kehadiran Internet dalam masa itu.Mulai PulihKini kondisi Aceh secara perlahan mulai pulih. Roda aktifitas ekonomi dan sosial mulai berputar. Bahkan kini jumlah pengguna Internet di Aceh yang melalui Tabina sudah mencapai lebih dari 100 titik. Diasumsikan, satu titik digunakan oleh sekitar 5 orang.Hal tersebut jauh berbeda dengan ketika Tabina pertama kali berdiri pada 2002 silam. Jumlah titik yang dilayani tak lebih dari 20 buah saja. Bahkan saat itu, hanya sekitar 2 buah ISP saja yang melayani Aceh, selain Wasantara dan Telkomnet Instan. Kini untuk jumlah ISP, telah mencapai sekitar 6 buah.Baik pengelola Tabina maupun tim Air Putih sama-sama optimis dengan pertumbuhan pengguna Internet di Aceh. Hal yang menjadi pendorong pertumbuhan tersebut, menurut catatan Eriadi, adalah lantaran terjadinya akulturasi budaya bekerja antara pihak relawan kemanusiaan dengan penduduk lokal.Sebutlah semisal penduduk lokal yang dilibatkan dalam program kemanusiaan, tentu mau-tak-mau harus mengikuti pola kerja yang ditetapkan. Misalnya saja terkait dengan penggunaan komputer dan Internet sebagai media komunikasi.Tak hanya itu saja, kini pun telah banyak program kemanusiaan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan penduduk lokal, dengan melalui pelatihan-pelatihan komputer dan Internet. Sehingga kedepannya akan semakin banyak masyarakat Aceh yang membutuhkan Internet.Untuk saat ini saja, kebutuhan tersebut sudah mulai terasa meningkat. Bahkan terkadang Tabina sampai harus menunda pemasangan perangkat di tempat pemesan, lantaran perangkat yang diperlukan sedang habis ketersediaannya dan pengirimannya belum sampai.Dengan bahu membahu bekerja-sama dengan tim Air Putih, kini area yang dapat dilayani oleh akses Internet Tabina sudah cukup luas, melingkupi daerah Banda Aceh dan Aceh Besar. Sejarah pun akan mencatat, bahwa kerja keras dan kesabaran akan berbuah manis. (dbu)Keterangan foto:1. Foto tampak depan kantor ISP Tabina, diambil dari lantai 3 posko Air Putih2. Pengelola ISP Tabina (dari kiri ke kanan): Eriadi, Faisal Fahmi, Henkie Prabancono dan Rizaldy SyahputraBerita terkait:Catatan dari Aceh: Tidur di NOC, Ngopi di Starblack(Tulisan ini adalah satu dari beberapa catatan penulis selama beberapa hari Aceh, atas undangan tim relawan Air Putih. Foto essay: Aceh, 1 Tahun Setelah Prahara Tsunami)
(donnybu/)