'Bersih-Bersih' Pita 3G
Primasel Harus Bayar Separuh 3G
- detikInet
Jakarta -
Pemerintah melakukan 'bersih-bersih' pita frekuensi yang diperuntukkan bagi 3G. Yang bisa 'digusur' harus pindah, yang tetap tinggal harus bayar. Indosat StarOne dan Telkom Flexi untuk wilayah Jakarta dan Banten-lah yang pertama terkena imbas 'bersih-bersih' frekuensi 3G. Kedua layanan fixed wireless berbasis CDMA tersebut harus pindah ke pita frekuensi 800 Megahertz dan bekerjasama dengan operator lain. StarOne siap bergandengan dengan Esia dari Bakrie Telecom, sedangkan Flexi masih kagok bergandengan dengan Fren-nya Mobile-8. Ada lagi pemegang frekuensi 3G yang saat ini diminta pindah. Perusahaan itu adalah Wireles Indonesia (WIN). Menurut Dirjen Pos dan Telekomunikasi Basuki Yusuf Iskandar, WIN telah diminta pindah ke pita Time Division Duplex (TDD) di rentang 1,9 Gigahertz. Perusahaan lain yang juga memegang frekuensi di area 3G adalah Primasel. Produk ikon dari Primasel adalah layanan CDMA di area Jawa Timur."Primasel, meskipun tidak di core band (3G-red), tapi dia di satelit. Jadi kalau ada satelit dia musti pindah. Lagipula, downlink dia kan masih besinggungan juga (dengan 3G-red), jadi dia musti bayar setengahnya," ujar Basuki. Primasel merupakan kasus yang unik. Seperti diungkapkan Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi, hanya frekuensi downlink Primasel yang memasuki wilayah 3G. Artinya hanya separuh, dari pasangan blok frekuensi yang digunakan Primasel, yang perlu 'dibersihkan'. Menurut Heru, kondisi itu berarti Primasel harus membayar setengah kewajiban operator 3G lainnya. Untuk pertama, up front fee dan Biaya Hak Penggunaan Frekuensi hari pertama, yaitu Rp 704 miliar. (wsh)Primasel
(wicak/)