Balon Internet Dimatikan Induk Google, Nasib Internet Indonesia?

Balon Internet Dimatikan Induk Google, Nasib Internet Indonesia?

Agus Tri Haryanto - detikInet
Jumat, 22 Jan 2021 17:30 WIB
Balon Internet Google Project Loon
Foto: detikINET/Ardhi Suryadhi
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, Indonesia menyatakan ketertarikanya lagi terhadap Project Loon besutan induk Google, Alphabet, untuk membantu menyebarkan internet di berbagai wilayah. Bagaimana nasib internet Indonesia, setelah balon internet tersebut dimatikan?

Project Loon adalah inovasi yang memungkinkan bisa memancarkan akses internet, meski berada di wilayah terjal dan sulit. Hal itu karena, Project Loon ibarat Base Transceiver Station (BTS), namun dalam kondisi terbang sampai ke lapisan stratosfer.

Kemampuan tersebut yang dinilai Pemerintah Indonesia cocok untuk mengatasi persoalan ketersediaan internet di pelosok. Seperti diketahui, geografis Indonesia yang terdiri dari luasnya wilayah, terdiri dari gunung-gunung, hingga laut yang membentang menjadi tantangan penggelaran internet sampai ke pelosok.

Sempat tertarik dengan balon internet tersebut, pemerintah kini lebih fokus terhadap peluncuran satelit Satria. Satelit berjenis High Throughput Satellite (HTS) itu direncanakan mengorbit pada kuartal keempat 2023.

"Project Loon adalah salah satu opsi teknologi yang pernah kami pertimbangkan. Namun, opsi lain berupa Satelit HTS Satria adalah opsi yang sudah kami eksekusi," ujar Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Anang Latief, Jumat (22/1/2021).

Terlebih, saat ini Alphabet memutuskan menghentikan Project Loon yang sudah digarapnya selama sembilan tahun. Hal itu terpaksa setelah tidak menemukan model bisnis berkelanjutan dan mitra yang bersedia.

"Jadi, dengan terminasinya Project Loon, tidak akan mengganggu rencana pemerataan infrastruktur digital di Indonesia," ungkap Anang.

Diberitakan sebelumnya, keputusan Alphabet mematikan balon internet dinilai mengejutkan. Pasalnya baru tahun lalu, Project Loon mendapatkan persetujuan dari pemerintah Kenya untuk meluncurkan balon pertama untuk menyediakan layanan konektivitas komersial.

"Mengembangkan teknologi baru yang radikal pada dasarnya berisiko, tapi itu tidak membuat kabar ini lebih mudah. Hari ini, saya sedih untuk berbagi bahwa Loon akan diturunkan," kata Westgarth.

Penghentian Loon terjadi setelah Alphabet menutup bisnis eksperimental lain bernama Makani, yang menyediakan tenaga angin dari layang-layang raksasa pada 2020. Baik Loon dan Makani merupakan proyek yang berasal dari 'X', unit bisnis Alphabet yang kerap menggarap proyek eksperimental jangka panjang dan menjadi bagian Other Bets.

Project Loon sendiri didirikan pada tahun 2011, bertujuan untuk menghadirkan konektivitas ke berbagai wilayah di dunia di mana membangun menara seluler terlalu mahal atau berbahaya dan digantikan dengan menggunakan balon sepanjang lapangan tenis untuk menerbangkan peralatan jaringan bertenaga surya di atas permukaan bumi untuk memancarkan sinyal internet.

Alphabet resmi meluncurkan balon internet tersebut pada Juni 2013. Dimulai dengan proyek percontohan di Selandia Baru, sebelum pengujian di California dan sempat diterbangkan untuk penggunaan darurat di tempat-tempat seperti Puerto Rico dan Peru ketika menara seluler runtuh karena bencana alam.



Simak Video "Refleksi Google di Ulang Tahun ke-23"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fay)