Aceh dan Nias, Provinsi Cyber Pertama di 2007
- detikInet
Aceh -
Tsunami agaknya membawa berkah bagi Aceh dan Nias. Pasalnya, pertengahan 2006 ini, Badan Pelaksana BRR NAD-Nias akan memulai pembangunan infrastruktur jaringan internet nirkabel (wireless) di 23 kota/kabupaten di Aceh dan Nias. Program ini ditargetkan selesai awal 2007 dan meliputi 21 kota/kabupaten di Aceh dan dua di Kabupaten Nias.. Sehingga Aceh dan Nias akan menjadi 'Cyber Province' yang pertama di Indonesia. Menurut Juru Bicara BRR Mirza Keumala, pembangunan internet nirkabel ini bertujuan untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi dalam waktu singkat, terutama yang terkait proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh dan Nias."Dengan adanya fasilitas ini, akhir 2006 Aceh akan menjadi provinsi cyber dan itu yang pertama di Indonesia," jelas Mirza dalam keterangan resmi yang diterima detikinet, Kamis (19/1/2006).Melalui teknologi ini, masyarakat diharapkan dapat ikut berperan aktif memberi informasi sekaligus mengawasi kinerja semua pihak yang terlibat dalam kegiatan rekonstruksi dan rehabilitasi di kedua daerah ini. Hal itu, menurut Mirza, demi mendorong terciptanya transparansi informasi kepada publik.Pembangunan jaringan ini juga berfungsi untuk mengganti infrastruktur telekomunikasi konvensional yang rusak akibat bencana. Komunikasi konvensional dinilai cukup mahal sehingga membatasi kebutuhan koordinasi, sementara intensitasnya cenderung meningkat seiring percepatan rekonstruksi dan rehabilitasi bencana.Sementara itu, di lingkungan pemerintahan, diharapkan dapat mendorong pelayanan publik yang lebih baik sekaligus menciptakan good governance berbasis teknologi informasi (TI). Dari sisi pengembangan masyarakat (community development), fasilitas ini juga dapat digunakan untuk merangsang percepatan pertumbuhan ekonomi, penyebaran ilmu dan teknologi, serta peningkatan mutu pendidikan.Tingkatkan Pengguna InternetSaat ini, jumlah pengguna Internet di Aceh dan Nias diperkirakan mencapai 100 ribu orang. Jika program ini selesai dibangun, maka jumlah itu diperkirakan akan meningkat hingga mencapai 500 ribu pengguna.Jaringan internet nirkabel itu sendiri menggunakan Very Small Apperture Terminal (VSAT) Single Carrier Per Channel (SCPC) sebagai jaringan tulang punggung (backbone). Selain bisa menjangkau seluruh area di Aceh dan Nias, investasi yang dibutuhkan lebih murah dibandingkan infrastruktur telekomunikasi konvensional.Sedangkan untuk distribusi domestik di tingkat lokal menggunakan Wifi (wireless fidelity) yang bekerja di frekuensi 2,4 GHz. Frekuensi ini bebas lisensi sesuai Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2005. Wifi merupakan standar teknologi dunia yang berkualitas dan mampu menjangkau hingga radius lima kilometer. Wifi juga terbukti handal saat diterapkan di wilayah bencana yang fasilitasnya serba terbatas.Untuk membangun sistem Internet Wireless Local Loop dibutuhkan lebih dari 125 orang dengan prioritas tenaga lokal dalam pengoperasiannya. Kepada mereka akan diberikan pelatihan. Setelah masa tugas BRR berakhir pada 2009, pengelolaannya diserahkan kepada Pemda NAD. (rou)
(rouzni/)