Gegara COVID-19, Peluncuran Satelit Satria Jadi Molor

Gegara COVID-19, Peluncuran Satelit Satria Jadi Molor

Agus Tri Haryanto - detikInet
Jumat, 31 Jul 2020 21:00 WIB
Satelit China
Gegara COVID-19, Peluncuran Satelit Satria Jadi Molor. Foto: istimewa
Jakarta -

Pandemi COVID-19 yang melanda seluruh dunia turut berdampak pada molornya peluncuran Satelit Republik Indonesia (Satria). Sebelumnya, satelit Satria diproyeksikan untuk menyebarkan akses internet di wilayah pelosok Indonesia.

Pada awalnya, Satria dijadwalkan dapat diluncurkan akhir 2020, sehingga diharapkan pada 2023 layanan internetnya bisa dinikmati masyarakat Indonesia. Akan tetapi, merebaknya virus Corona sejak awal tahun hingga saat ini, mengubah rencana tersebut.

"Untuk peluncuran perkiraan di pertengahan atau paling lambat bulan Oktober 2023. Mundur, iya, karena praktis COVID-19 semua. Semua negara, apalagi Prancis dan China kena dampak luar biasa karena COVID-19. Jadi, ya sudahlah," ungkap Direktur Utama Bakti Kominfo Anang Latif saat ditemui di Manado, Sulawesi Utara.

Proyek satelit Satria telah menggaet dua investor, yaitu BPI France dari Prancis dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) dari China. Dijelaskan Anang, badan usaha dengan investor tersebut telah menyetujui kontrak pengembangan satelit.

"Saya terakhir di-update dari badan usaha ini, sudah fix, sudah semua persoalan term dibahas di kontrak kita sudah sepakat, tinggal karena ini G2G (Goverment to Goverment), pinjaman juga dari investor dari Prancis, mereka perlu ada board, regular meeting, yang terjadi regular meeting sebulan sekali, approve-nya sebulan sekali," tuturnya.

"Karena sudah G2G, perlu persetujuan Pemerintah Prancis. Jadi, ada birokasinya juga. Nah, perkiraan kami sebelum bulan Oktober ini sudah selesai," tambahnya.

Pembahasan itu yang berdampak pada mundurnya peluncuran satelit Satria yang direncanakan semula.

Proyek satelit Satria yang ditender oleh pemerintah dimenangkan oleh Konsorsium PSN yang kemudian membentuk PT Satelit Nusantara Tiga sebagai perusahaan yang mengoperasikan satelit pemerintah tersebut. Adapun Satelit Nusantara Tiga dimiliki PT Pintar Nusantara Sejahtera, PT Pasifik Satelit Nusantara, PT Dian Semesta Sentosa, dan PT Nusantara Satelit Sejahtera yang semuanya tergabung dalam konsorsium PSN.

PT Satelit Nusantara Tiga telah menunjuk Thales Alenia Space sebagai manufaktur satelit berjenis Very High Throughput Satellite (VHTS) dan akan memakai roket dari SpaceX, yakni Falcon 9 yang akan mengangkut Satria ke slot orbit 146 derajat Bujur Timur.

Satelit Satria akan diandalkan pemerintah untuk berperan dalam melayani akses internet dengan kapasitas 150 Gbps di 149.400 lokasi, terdiri dari 93.900 sektor pendidikan (SD, SMP, SMA), 47.900 pemerintahan (kelurahan, kecamatan), 3.900 pertahanan & keamanan (polres, polres, TNI AD-AU-AL), dan 3.700 kesehatan (puskesmas).



Simak Video "Ombudsman Sebut Indonesia Sudah Terlalu Banyak Dijejali Investor"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/rns)