Aceh Akan Jadi Propinsi Telepon Wireles
- detikInet
Aceh -
Telkom akan menjadikan Aceh propinsi telepon nirkabel (wireles). Pasalnya pengguna Telkom Flexi pasca bencana tsunami melonjak gila-gilaan. Hal itu dikemukakan Ketua Kandatel Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Syaiful Kamal, saat ditemui di kantornya Jalan SA Mahmud Syach Banda Aceh, Senin (19/12/2005). Menurut Syaiful, Saat ini pemulihan telekomunikasi Aceh pasca Tsunami sudah 100 persen. Pihaknya, lanjut Syaiful, memproyeksikan Aceh menjadi propinsi telepon nirkabel. Saat ini peningkatan pengguna telepon wireles Telkom Flexi di Aceh meningkat drastis. "Untuk tahun 2004, jumlah pelanggan hanya mencapai 3.700 sedangkan untuk 2005 mencapai 30.000 pelanggan," tuturnya. Tahun depan, 2006, Syaiful menargetkan angka 47.500 pelanggan. Menurutnya permintaan masyarakat tinggi karena pada saat bencana hanya telkom Flexi saja yang tidak putus. Untuk menghadapi kemungkinan meningkatnya demand pengguna, Syaiful mengatakan Telkom sudah membangun 21 Base Transceiver System (BTS). Sebelumnya, Flexi hanya memiliki 2 BTS. Selain itu, Telkom juga meningkatkan kualitas backbone di Aceh. "Untuk kapasitas bandwidth mengalami peningkatan 33,5 persen dari sebelum terjadi tsunami," ujar Syaiful. "Karena itu, kami juga saat ini sedang membuat ring-loop sebagai jalur pengaman. Ada yang melalui jalur barat, dan juga ada jalur timur. Ini sebagai pengaman jika sewatu-waktu terjadi bencana," Syaiful menambahkan. Menurut Syaiful, jika hanya untuk membangun dia daerah bencana, sebenarnya cukup 10 BTS. "Tapi kami membangun telekomunikasi, tidak hanya sekadar memperbaiki yang rusak tapi juga mempertimbangkan perpindahan penduduk akibat terjadinya bencana," imbuhnya. Tahun 2006 diharapkan semua masalah teknis sudah bisa selesai. Apalagi, ujar Syaiful, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias mengalokasikan Rp 8,8 miliar untuk telekomunikasi."Ke depan, kita akan tetap untuk mempromosikan wireles dibandingkan wired line (telepon tetap kabel-red) karena teknologi ini lebih cepat, lebih mudah, dan tidak membutuhkan SDM (sumber daya manusia-red) yang banyak. Sedangkan kalau kita masih menggunakan teknologi lama, maka akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan peralatan yang mahal," ujar Syaiful.
(wicak/)