RI Mau Tambah Satelit, Internet di Daerah Rural Bisa Tembus 10 Mbps

RI Mau Tambah Satelit, Internet di Daerah Rural Bisa Tembus 10 Mbps

Reyhan Diandri Ghivarianto - detikInet
Selasa, 03 Mar 2020 17:55 WIB
Menkominfo Johny G Plate
Foto: Reyhan Diandri Ghivarianto/detikcom
Jakarta -

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate menyampaikan akan membangun sistem komunikasi, khususnya internet bagi masyarakat rural (terpencil) yang ada di Indonesia. Ia mengatakan nantinya kecepatan internet untuk daerah terpencil akan mencapai 10 megabytes per second (Mbps) dengan diluncurkannya satelit baru yang bisa memancarkan sinyal berkapasitas 150 GB pada 2023.

"Saat ini Indonesia menggunakan 5 satelit di orbit, untuk memastikan tersedianya layanan internet di pelosok tanah air kita. Nantinya kita juga akan meletakkan di 3 slot orbit kita, 3 satelit baru yaitu High-Throughput Satellite. Mudah-mudahan untuk pertama pertama kalinya pada tahun 2023 kuartal terakhir sekitar kuartal empat, kita bisa menempatkan satu High-Throughput Satellite di orbit dengan kapasitas 150 gigabytes(GB). 150 GB itu akan melayani hingga 20 ribu titik di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) atau rural Indonesia. Dengan harapan bahwa kecepatan internet di rural area kita akan mencapai 10 megabytes per second (MBps)," ungkap Johnny, dalam konferensi pers Grab Ventures Velocity, di Plaza Kuningan, Selasa (3/3/2020).

Johny melanjutkan juga akan menambah kecepatan internet di Indonesia termasuk yang 150 GB tadi hingga mencapai 0,9 terrabytes (TB).

"Jadi masih ada tambahan sekitar 750 GB nanti sampai tahun 2035. Setelah 2024 kalau bisa kita letakkan satelit untuk mencapai 350 GB di orbit dan menambah lagi hingga mencapai tambahan sebesar 400 GB pada 2035. Pada saat itu nanti kecepatan internet kita di rural area bisa mencapai 30 MBps," ungkapnya.

Johnny menjelaskan sebelumnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia perlu digenjot dalam segi infrastruktur dasar. Saat ini Indonesia sudah memiliki infrastruktur komunikasi dasar yaitu internet lewat fiber optic baik di darat dan laut.

"Deployment ICT Indonesia ini luar biasa. Sebagai contoh gelar fiber optic di Indonesia baik di darat maupun di laut yang menghubungkan titik-titik simpul penting Indonesia. Panjangnya sama dengan atau lebih dari 348 km. Termasuk di dalamnya tol langit yaitu palapa ring, ring barat, ring tengah, ring timur yang mencapai 12.148 km," jelas Johnny.

Selain itu ia mengungkapkan ada pula teknologi seperti sistem pemancar sinyal microwave (Microwave Link) yang bisa ditaruh agar setiap pelosok terdapat sinyal untuk berkomunikasi.

"Untuk anak-anak dan adik-adik dan saudara-saudara semuanya, bahkan tanpa deployment ini juga masih ada di Kalimantan dan pegunungan Papua yang tidak terjangkau teknologi Microwave Link yang disediakan untuk memastikan tersedianya internet dan ada sinyal," ujar Johnny.

Dalam kesempatan Grab Ventures Velocity, Johnny mengungkapkan bahwa dengan adanya infrastruktur dasar seperti internet dan sinyal dari pemerintah maka penguasa mikro akan bisa mendapatkan upscale bisnis. Selain itu pemerintah juga akan mengambil peran penting di dalam pengembangan bisnis-bisnis yang ada.

"Kalau sudah ada internet dan sinyal maka potensi bisnis mikro yang diusulkan Grab dan startup-startup yang hadir, bisa mendapatkan peluang upscale bisnis yang hebat. Pemerintah juga akan menjadi akselator untuk membantu instrumen pembiayaan, jadi mak comblang lah istilahnya. Untuk memastikan 2.198 startup yang tadi disebutkan naik kelas agar bisa menjadi startup unicorn baru dan juga menambah decacorn yang ada. Untuk itulah kita perlu membangun koeksistensi yang ada di antara pemegang kepentingan," ungkap Johnny.

Johhny berharap agar masyarakat bisa memanfaatkan peluang digital ekonomi yang bisa dicapai untuk 5 tahun ke depan tetapi tidak meninggalkan para pengusaha mikro seperti petani, peternak, dan nelayan. Sehingga mereka bisa mencapai pasar global melalui bisnis yang terdigitalisasi.

"Indonesia ekonomi digitalnya dalam 5 tahun ke depan size-nya hampir USD 140 miliar, jadi peluang ini sangat besar. Sehingga pemerintah mempunyai peran yaitu men-deploy infrastrukturnya, menyiapkan regulasi yang memadai, serta memanajemen ruang udara dan angkasa dengan mengatur spektrum frekuensi agar tersedianya sinyal yang cepat untuk komunikasi kita bersama," jelas Johnny.

"Harapannya jangan lupa agar para petani, peternak, dan nelayan untuk ikut ambil bagian di dalam marketplace kita. Untuk bisa bermigrasi dari bisnis offline menjadi online. Agar mereka nantinya bisa masuk ke ruang-ruang digital global," pungkas Johnny.

Sebagai informasi, Johny G Plate menghadiri peluncuran Grab Ventures Velocity (GVV) yang merupakan program dari Grab untuk memajukan ekosistem startup di Indonesia untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.

RI Mau Tambah Satelit, Internet di Daerah Rural Bisa Tembus 10 Mbps
(prf/fay)