'Inflasi, Pengguna Ponsel Akan Beralih ke SMS'
- detikInet
Jakarta -
Inflasi yang tinggi diyakini akan menurunkan daya beli pelanggan telekomunikasi. Alokasi biaya untuk layanan suara pun diperkirakan akan beralih ke SMS. Hal itu diungkapkan Direktur Utama Telkom, Arwin Rasyid, kepada wartawan seusai memaparkan kinerja Telkom dalam kuartal ketiga 2005. "Kemungkinan ada alokasi dana yang seharusnya untuk voice dialihkan ke SMS," tutur Arwin di Jakarta, Kamis (10/11/2005). Arwin mengakui inflasi bisa menurunkan kemampuan daya beli pelanggan. "Namun itu tergantung bagaimana konsumen menempatkan komunikasi dalam keranjang konsumsi mereka," ujarnya. Meski demikian untuk saat ini Telkom belum bisa memastikan reaksi konsumen terhadap inflasi. "Awal Januari mungkin kita baru bisa mendapat kejelasan, sekarang masih terlalu awal, masih libur lebaran," ia menambahkan.Kinerja Kuartal Ketiga 2005Telkom memaparkan pertumbuhan layanan fixed wireles access (FWA) alias Telkom Flexi sebesar 244%. Angka itu didapat dari pertambahan pelanggan Flexi sebesar 1,083 juta pada kuartal 3 2004 menjadi 3,722 juta (kuartal 3 2005). Telkomsel, anak perusahaan Telkom, mencatat dominasi pasar seluler sebesar 54% atau setara dengan 23,5 juta pelanggan dari perkiraan total 40 juta pelanggan seluler di Indonesia. Angka itu tumbuh 72% sejak kuartal 3 2004 (13,692 juta). Untuk telepon tetap, menurut Arwin hampir tidak ada peningkatan. Pelanggan tahun lalu tercatat 8,509 hanya tumbuh menjadi 8,651 di tahun 2005. Untuk layanan Telkom Speedy, Telkom mencatat jumlah pelanggan pada kuartal 3 2005 mencapai 24 ribu satuan sambungan layanan (SSL). Ini terjadi di dua Divisi Regional, yaitu Divre II (Jabotabek dan Banten) serta Divre V (Jawa Timur). Arwin berharap pelanggan Speedy bisa mencapai 500 ribu SSL pada tahun 2006. Total pelanggan Telkom Group kini mencapai 36 juta pelanggan. Angka itu mencakup pelanggan telepon tetap, FWA Telkom Speedy, seluler, dan internet.
(wicak/)