Dirut Telkom: Kami akan Hentikan Langkah Monopolistis
- detikInet
Jakarta -
Dirut PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), Arwin Rasyid, menjanjikan gebrakan baru dalam kebijakan perusahaan. Pihaknya tidak lagi melakukan langkah-langkah monopolistis, itu janji Arwin di hadapan para pemimpin redaksi media massa. Hal tersebut diungkap Direktur Utama PT Telkom, dalam pertemuan dengan para pemimpin redaksi media massa di Mawar Room Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Rabu (3/8/2005). "Ke depan, kami tidak lagi berpikir untuk melakukan langkah-langkah yang sifatnya monopolistis," janji Arwin. "Kami punya produk yang bagus. Dan kami akan mengembangkan pola-pola marketing yang baru. Langkah-langkah perubahan itu akan kami lakukan dalam 100 hari ke depan ini," Arwin mengutarakan niatnya.Pernyataan Dirut PT Telkom tersebut, dinilai para pengamat telekomunikasi sebagai pernyataan yang harus dinantikan pengimplementasinya. "Telkom memang sudah seharusnya melakukan hal itu. Tapi yang lebih penting, bagaimana pernyataan Arwin itu bisa sampai ke seluruh karyawan Telkom yang berjumlah 22 ribu," kata Mas Wigrantoro, Ketua Masyarakat Telematika (Mastel), ketika dihubungi detikinet. "Sekarang yang paling penting adalah action, result. Jadi tidak sekedar lips service. Mari berpikir secara result oriented dengan proses yang benar," serunya.Mas Wigrantoro mengatakan, penting bagi Telkom untuk mewujudkan janji Dirutnya, demi merealisasikan wujud Telkom yang siap bersaing. "Musuh terbesar Telkom saat ini bukanlah Indosat atau operator lain, tapi mentalitas karyawan yang belum siap bersaing," ujarnya.Pernyataan yang sama juga disampaikan pengamat telematika asal Yogyakarta, Roy Suryo. "Kita harus menghargai sikap pak Arwin. Tapi kita tunggu buktinya," kata Roy. "Penting juga bagi beliau untuk menyampaikan pesan ini ke daerah-daerah, ke Kadivre-Kadivre Telkom," ujarnya.Roy mengatakan, selama ini monopoli yang dilakukan Telkom sangat terasa dalam implementasi layanan telekomunikasi di Wartel. Telkom mengubah istilah Wartel dari Warung Telekomunikasi menjadi Warung Telkom. "Telkom juga di beberapa daerah sempat memblokir akses SLI milik operator lain, yang dilakukan dari Wartel," papar Roy.Contoh lain juga disampaikan pengamat telematika lainnya, Heru Sutadi. "Telkom selama ini bersifat defensif terhadap aturan-aturan yang bersifat kompetisi," katanya. Heru memaparkan contoh sikap Telkom dalam kasus perubahan kode akses SLJJ. "Terbukti meski pemerintah sudah menetapkan aturan duopoli dalam bidang SLJJ, sampai sekarang hal itu masih belum jalan," ungkapnya. "Masih ada wacana untuk meminta kompensasi lah, lalu serikat karyawannya sampai melakukan demo untuk menolak kebijakan tersebut. Itu kan terlalu defensif," kata Heru."Kalau memang Telkom merasa produk-produknya bagus, kenapa tidak berkompetisi saja? Telkom memang harusnya berani!" Heru menandaskan.
(wicak/)