BERITA TERBARU
Selasa, 29 Mei 2018 16:07 WIB

Rangsang Ekonomi Digital, Kominfo Bangun Internet ke Pelosok

Agus Tri Haryanto - detikInet
Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET
Jakarta - Untuk membangun infrastruktur telekomunikasi di daerah pelosok Indonesia, dibutuhkan inovasi dan kolaborasi dari seluruh pemangku kepentingan. Hal itu dimaksudkan agar terciptanya gairah ekonomi digital yang bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.

Benyamin Sura selaku Direktur Pengembangan Pitalebar, Ditjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika, Kementerian Kominfo, menuturkan Indonesia perlu mengejar ketertinggalan ketersediaan infrastruktur di area terpencil.

"Kami ada rencana pita lebar Indonesia, target-target yang harus dicapai ada disitu. Untuk fixed broadband memang butuh banyak inovasi dan kolaborasi dari semua pihak agar tingkat penetrasi yang masih 7,87% bisa ditingkatkan menjadi double digit seperti di seluler," jelas Benyamin di Jakarta.


Saat ini pemerintah sudah berinisiatif dengan membangun proyek Palapa Ring. Adanya pembangunan infrastruktur tulang punggung telekomunikasi itu di daerah pelosok, diharapkan operator seluler bisa memaksimalkan kehadiran infrastruktur tersebut guna menghadirkan layanan internet.

Berdasarkan data dari Kominfo, sejauh ini capaian wilayah pedesaan yang sudah tersentuh oleh jaringan 3G mencapai 73,02% dari total 83.218 desa/kelurahan. Untuk cakupan 4G baru mencapai 55,05% saja.

Proyeng Palapa Ring.Proyeng Palapa Ring. Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET

Pemerintah menargetkan pada tahun 2019 mendatang, seluruh wilayah desa/kelurahan di seluruh Indonesia dinyatakan 100% terselimuti oleh jaringan 3G. Untuk seluruh wilayah kabupaten/kota yang berjumlah 514, pada tahun depan diharapkan sudah 100% tercover oleh jaringan 4G LTE, di mana saat ini baru 64%-nya saja yang sudah terjangkau.

Untuk mengejar area yang belum tersentuh akses internet, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika (BAKTI) terus mengimplementasikan program-program yang dijalankannya. Sebagai informasi, BAKTI adalah divisi dari Kominfo yang khusus mengurusi penyediaan internet di daerah terpencil.


Direktur Utama BAKTI Anang Latif, menyebutkan program BAKTI yang dilaksanakannya, meliputi soal pembangunan Base Transceiver Station (BTS), Satelit Multifungsi, Ekosistem, Penyiaran, Palapa Ring sampai akses internet.

"Sebagai pengelola dana USO ada investasi yang dilakukan, pengelolaan dana hasil investasi tersebut digunakan untuk penyiaran. Dibutuhkan satelit dengan cost per bandwidtnya yang berharga murah. BAKTI bukan operator, kita menyediakan sistem atau skema yanda dapat digunakan dan bekerjasama oleh perangkat pemerintahan daerah," jelas Anang Latif.

Sementara itu, Syarif Lumintarjo, Direktur Palapa Ring Barat, menambahkan bahwa membangun dan mengoperasikan Palapa Ring Barat memang sudah dilakukan dan beroperasi sejak Maret 2018. Hal itu seiring dengan penerimaan trial dan PO yang dilakukan. Disebutkannya pula, jaringan internet yang membentang dari Dumai hingga Singkawang.


"Kekuatan Palapa Ring Barat adalah menjangkau kota kabupaten maupun pulau terluar dengan jaringan serat optik, terdiri Batam, Kepulauan Anabas, Natuna, Singkawang, Karimun, Kepulauan Meranti, Bengkalis, Dumai, Siak, Lingga dan Tanjung Jabung Barat yang didukung oleh pemerintah melalui Kominfo. Kemudian, didukung oleh sumber daya yang memiliki pengalaman dalam bidang serat optik dan Industri ICT," tutur Syarif.

"Ketersediaan dari Palapa Ring Barat ini diharapkan dapat berkolaborasi dengan operator sehingga mempermudah dan menghemat biaya operator," tambah Syarif.

Sementara itu, diungkapkan Larry Ridwan, Direktur Utama PT Sampoerna Telekomunikasi (NET1), bahwa NET1 bisa jadi solusi penyebaran area density rendah tersebut karena coverage yang luas, dan area yang dimasukin juga punya kebutuhan jaringan misalkan perkebunan, tambang dan lain sebagainya. Bahkan, untuk wilayah perairan atau laut sudah siap untuk menyediakan jaringan generasi keempat.

"Kita jadi operator pertama di Indonesia yang memegang frekuensi 4G LTE di jaringan 450 Mhz. Spektrum 450 Mhz rendah dan sinyalnya jauh bisa mencapai 100 km, teknologinya sudah 4G LTE. Ini sudah berbeda dengan zaman Sampurna telekomunikasi sebelumnya karena standarnya sudah 4G LTE sekarang ini," kata Larry.



"Sebenarnya ada posisi di market untuk jaringan ini, untuk menargetkan apakah B to C retail atau B to B. Untuk retail kita akan jalankan namun yang kita tunggu adalah kolaborasi dengan pihak lain, vendor dan ISP lain," jelas Larry Ridwan.

Ia menerangkan bahwa hingga saat ini NET1 sudah ada 600 site. Meskipun kecil namun jangkauannya paling luas. Perangkat sudah ada tersedia dan kita memang sudah beredar di daerah pinggiran Indonesia.

Sedangkan, berkaitan dengan program USO, dilihat dari segi ekonomisnya memang diakui bahwa area gegografiis Indonesia memiliki medan yang berat terutama di area rural. Masuknya satu site di sebuah kabupaten di pelosok, densitas penduduknya itu sangat kecil, bisa jadi area 1 km hanya 10 orang saja.

"Namun, melalui Program NET1 untuk pemberdayaan masyarakat yang bernama Locate NET1. Disini kami bisa berkolaborasi dengan pihak lain yang terkait untuk memperluas jaringan dari palapa ring tersebut. Keunggulan dari NET1, jika operator lain butuh titik lebih banyak misalkan 10 maka NET1 hanya butuh 1 titik saja," (agt/mag)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed