Kamis, 22 Mar 2018 21:58 WIB

568 Desa yang Dulunya Tanpa Sinyal Kini Sudah Bisa Halo-halo

Agus Tri Haryanto - detikInet
Foto: dok. Telkomsel Foto: dok. Telkomsel
Jakarta - Masyarakat di berbagai wilayah Indonesia yang terisolasi layanan komunikasi, mulai berangsur mendapatkan akses telekomunikasi seperti dirasakan di perkotaan. Adalah Telkomsel yang telah membangun 551 Base Transceiver Station (BTS) dalam waktu tiga tahun terakhir.

Dalam waktu dekat, Telkomsel menyatakan akan mengoperasikan 17 BTS lainnya. Sehingga, secara total operator seluler ini telah menggelar 568 BTS di 568 desa tanpa sinyal di Tanah Air.

Wilayah terisolir tersebut tersebar di 14 provinsi, di antaranya Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Jambi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.


Telkomsel mengatakan 568 BTS tersebut, 47 diantaranya kategori BTS 4G yang memungkinkan penduduk di sekitarnya dapat memanfaatkan layanan data mengakses internet guna meningkatkan produktivitasnya.

"Kehadiran BTS di wilayah-wilayah yang sebelumnya tidak memperoleh akses telekomunikasi ini, semakin mempertegas komitmen Telkomsel dalam membangun dan memajukan seluruh negeri, tidak hanya di kota dan daerah yang menguntungkan secara bisnis," ujar Direktur Network Telkomsel Bob Apriawan, Kamis (22/3/2018).

568 Desa Tanpa Sinyal yang Kini Bisa Halo-HaloBTS Telkomsel yang ada di wilayah pelosok. Foto: Dok. Telkomsel


"Kami terus berupaya menyediakan layanan komunikasi berkualitas yang merata di seluruh Indonesia untuk mendorong pertumbuhan masyarakat dalam segala aspek kehidupan," ucapnya menambahkan.

Penggelaran BTS di wilayah-wilayah terisolir itu merupakan hasil kerjasama Telkomsel dengan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Kerjasama ini dalam hal penyediaan akses telekomunikasi seluler bagi masyarakat di wilayah Universal Service Obligation (USO).

Dalam membangun BTS USO di area pelosok, Telkomsel menerapkan teknologi BTS yang dapat digunakan layanan transmisi satelit Very Small Aperture Terminal-Internet Protocol (VSAT-IP). Teknologi ini merupakan solusi komunikasi untuk melayani daerah-daerah terpencil dengan kondisi geografis yang menantang, sehingga paling tepat untuk diimplementasikan di negara kepulauan.

Dalam program ini juga, operator anak plat merah ini menggelar perangkat antena yang berfungsi untuk mengirim dan menerima sinyal telekomunikasi, serta Base Station Controller (BSC) guna mengontrol dan memonitor kinerja BTS.

Baru-baru ini, Menkominfo Rudiantara meresmikan beroperasinya BTS Uso4G di Desa Tolo'oi, Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Kehadiran layanan berkecepatan akses data tinggi sejak Oktober 2017 tersebut dimanfaatkan secara positif untuk meningkatkan produktivitas masyarakat yang sebagian besar memiliki mata pencaharian di bidang pertanian dan peternakan.

Telkomsel mencontohkan, kini masyarakat semakin cepat dan mudah dalam bertukar informasi dalam bentuk teks maupun foto untuk melaporkan hasil panen jagung maupun melakukan transaksi jual beli pupuk.

"Hadirnya BTS 4G Telkomsel terbukti nyata mentransformasi kehidupan masyarakat di wilayah-wilayah terpencil. Ke depannya, Telkomsel tidak hanya menghadirkan konektivitas layanan komunikasi, namun juga menyediakan solusi produk dan layanan digital yang turut mendukung produktivitas masyarakat sekaligus meningkatkan perekonomian daerah pelosok," jelas Bob.


Di samping mendukung program USO, Telkomsel terus berperan aktif dan berkontribusi dalam menghadirkan akses telekomunikasi bagi masyarakat Indonesia di kawasan tertinggal, terluar, dan terdepan (3T).

Sesuai dengan komitmen kuat untuk membuka akses telekomunikasi dan informasi di daerah perbatasan, daerah terpencil, serta jalur bahari di Indonesia sekaligus mendukung percepatan Rencana Pita Lebar Indonesia periode 2014-2019, Telkomsel telah menggelar program Merah Putih (Menembus Daerah Perdesaan, Industri Terpencil, dan Bahari).

Proyek Merah Putih diharapkan memberikan solusi agar masyarakat di wilayah-wilayah yang belum terjangkau layanan telekomunikasi bisa menikmati layanan telekomunikasi dengan standar kualitas yang sama dengan wilayah lainnya di seluruh Indonesia. (agt/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed