Seperti diketahui, Telkomsel baru saja dinyatakan sebagai pemenang dalam proses lelang frekuensi 2,3 GHz. Mereka berani menawar Rp 1,007 triliun agar bisa menggunakan spektrum 30 MHz di frekuensi tersebut.
Menurut Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah nilai tersebut tergolong rasional. Apalagi jika dibandingkan dengan negara lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saksikan video 20detik tentang Telkomsel menang lelang frekuensi di sini:
Ia pun lantas mencontohkan India. Di sana, operator membayar empat kali lebih besar dari yang dibayarkan Telkomsel. Bila dihitung, operator Negeri Gangga itu membayar USD 0,34/MHz/populasi. Sementara Telkomsel membayar USD 0,08/MHz/populasi.
Itu baru India. Jika dibandingkan dengan sejumlah negara maju, harga frekuensi di sana malah jauh lebih tinggi lagi, bisa lima kali lipat, misalnya Singapura, Hong Kong, Australia dan Korea Selatan.
"Karena hitungannya MHz per populasi. Wilayahnya tidak begitu besar, penduduknya tidak begitu bayak. Jadi biaya frekuensi jadi lebih besar lagi," kata Ririek.
Terkait pendanaan, Telkomsel menggunakan dana internal untuk menebus lelang frekuensi 2,3 GHz. Sehingga Ririek berani memastikan tidak akan mengganggu kinerja keuangan Telkomsel 2017, karena sejak lama sudah dianggarkan jika akan ikut lelang.
Meski sudah mengucurkan dana yang cukup besar. Telkomsel tidak memasang target kapan bisa balik modal. "Semua ini bentuknya investasi yang berkelanjutan," pungkas Ririek. (fyk/rou)