Jumat, 18 Agu 2017 10:15 WIB

Naik Turun Lembah Demi Online di Daerah Terpencil

Adi Fida Rahman - detikInet
Menkominfo di Alor. Foto: Adi Fida Rachman/detikINET Menkominfo di Alor. Foto: Adi Fida Rachman/detikINET
Alor, NTT - Mendapatkan akses internet adalah hak semua masyarakat Indonesia. Tidak hanya mereka yang berada di kota, tapi juga yang bermukim di daerah terpencil.

Tapi masalahnya untuk menghadirkan akses di wilayah tersebut tidak mudah. Tidak heran jika para operator enggan menancapkan BTS mereka di sana karena secara bisnis dinilai kurang menguntungkan.

Di sinilah kemudian peran pemerintah masuk. Mereka menggantikan operator untuk membangun infrastruktur akses internet di seluruh daerah plosok.

"Karena ini tugas pemerintah. Dan pemerintah harus hadir manakala memang dianggap tidak layak dari segi bisnis," kata Rudiantara saat ditemui detikINET usai meresmikan BTS 4G Telkomsel BAKTI di Desa Tude, Kabupaten Alor, NTT, Kamis (17/8/2017).

"Sehingga mengangkat daerah pelosok menjadi setara. Menyempitkan gap antara yang di daerah terpencil dengan yang di kota, luar jawa dengan di jawa," imbuhnya.

Untuk menghadirkan akses internet di area terpencil, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menganggarkan Rp 2 triliun. Penggarapannya diserahkan pada Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan informatika (BAKTI) yang dulu dikenal dengan nama BP3TI.



Perjuangan Berat ke Pelosok

Akses yang sulit menjadi tatangan yang harus dihadapi BAKTI kala membangun infrastrukur internet di daerah terpencil. Seperti ketika pembangunan BTS di Desa Tode, Alor, NTT.

"Untuk menuju lokasi butuh 3-4 jam dari ibukota kabupaten. Belum lagi harus membawa peralatan tower, perangkat BTS, bahan untuk pagar," ungkap Anang Latif, Direktur Utama BAKTI.

Tapi apa yang disampaikan Anang sebenarnya tidak seberapa. Dalam video dokumentasi yang diputar BAKTI malah lebih berat.

Mereka harus naik turun lembah, melintasi sungai hingga terjebak di jalanan berlumpur. Mobil mogok, terperosok dan sampai terbalik pernah mereka alami demi menuju lokasi.

Tantangan lainnya yang harus mereka hadapi yakni ketersediaan pasokan listrik. Kebanyakan daerah belum teraliri listrik sehingga harus menggunakan solar cell.

"Sebanyak 75% daerah terpencil belum tersedia listrik. Jadi kami harus bawa solar cell dengan ukuran yang cukup besar dan itu dibawa dari Jakarta," kata Anang.

Melihat semua tantangan tersebut, semoga saja semangat BAKTI tidak kendor. Sehingga rencana pembangunan 5.000 BTS di daerah terpencil dapat terealisasi. Sehingga Indonesia makin merdeka dalam mengakses internet. (afr/fyk)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed