Jumat, 24 Feb 2017 18:03 WIB

Catatan Perjalanan Satelit Telkom 3S

Ada Rasa Indonesia di Suriname

Penulis: Bagya Mulyanto - detikInet
Foto: Peluncuran satelit Telkom 3S (detikINET/Achmad Rouzni Noor II) Foto: Peluncuran satelit Telkom 3S (detikINET/Achmad Rouzni Noor II)
Suriname - Peluncuran Satelit Telkom 3S telah sukses dilakukan pada 14 Februari 2017 pukul 18.39 waktu setempat di Kourou, Guyana Prancis. Peluncuran tersebut telah memenuhi harapan banyak pihak, umumnya rakyat Indonesia yang diharapkan nanti akan sangat membantu dan mendukung pembangunan ekonomi berbasis digital.

Usai peluncuran, Direktur Utama Telkom, Alex J Sinaga menyampaikan apresiasinya terhadap kesuksesan peluncuran satelit Telkom 3S. Alex pun mengapresiasi kerja keras tim Telkom serta mitra manufaktur dan launcher (pelontar) satelit Telkom 3S. Perlu diketahui, satelit Telkom 3S diproduksi oleh Thales Alenia Space dan diluncurkan oleh roket milik Arianespace.

Ada Rasa Indonesia di SurinameFoto: Pidato CEO Telkom Group Alex J. Sinaga saat satelit Telkom 3S sukses meluncur (detikINET/Achmad Rouzni Noor II)

"Praise the Lord. Congratulation, thank you very much for Thales and Arianespace for this fantastic job," ujarnya pada kesempatan tersebut.

Tak lupa disampaikan ucapan terima kasih kepada para tamu dari Indonesia yang juga berkesempatan hadir di ruangan tersebut antara lain dari Kementerian Komunikasi dan Informatika RI yang diwakili oleh Bapak Ismail, Dirjen SDPPI serta dari Kementerian BUMN RI yang diwakilkan oleh saya sendiri.

"Kami sangat bangga atas suksesnya peluncuran satelit Telkom 3S ini dan berharap ke depan peran Telkom semakin strategis dalam mendukung program Nawacita khususnya dalam mengembangkan ekonomi Indonesia yang berbasis digital, dan pelayanan Telkom kepada masyarakat Indonesia pun semakin baik dan menjangkau daerah terdepan, terluar dan terpencil," kata penulis waktu itu.

Usai acara, penulis berkesempatan mengunjungi Suriname, sebuah negara yang menarik untuk diceritakan karena banyak masyarakatnya yang merupakan keturunan Jawa. Alasan lainnya, karena Suriname jaraknya cukup dekat dengan Kourou, Guyana Prancis, tempat peluncuran satelit Telkom 3S.

Dari beberapa catatan dan informasi yang kami dapat bahwa Suriname (Surinam), dulu bernama Guyana Belanda atau Guiana Belanda adalah sebuah negara di Amerika Selatan dan merupakan bekas jajahan Belanda. Negara ini berbatasan dengan Guyana Prancis di timur dan Guyana di barat.

Di selatan berbatasan dengan Brasil dan di utara dengan Samudra Atlantik dengan luasan 163.821 km2. Di Suriname tinggal sekitar 75.000 orang Jawa yang dibawa ke sana dari Hindia Belanda antara tahun 1890-1939.

Wilayah Suriname mulai dikenal luas sejak abad ke-15, yaitu ketika bangsa-bangsa imperialis Eropa berlomba menguasai Guyana, suatu dataran luas yang terletak di antara Samudera Atlantik, Sungai Amazon, Rio Negro, Sungai Cassiquiare dan Sungai Orinoco.

Ada Rasa Indonesia di SurinameFoto: Suasana peluncuran satelit Telkom 3S (detikINET/Achmad Rouzni Noor II)

Semula dataran ini oleh para ahli kartografi diberi nama Guyana Karibania (Guyana yang berarti dataran luas yang dialiri oleh banyak sungai dan Karibania dari kata Caribs yaitu nama penduduk asli yang pertama kali mendiami dataran tersebut).

Pada tahun 1870, pemerintah Belanda menandatangani sebuah perjanjian dengan Inggris untuk mendatangkan imigran asing ke Suriname. Perjanjian ini diimplementasikan secara resmi pada tahun 1873 sampai 1917, dimana rombongan imigran Hindustan pertama dari India didatangkan, termasuk imigran dari jawa yang didatangkan pada tahun 1890-1939.

Seiring dengan ditempatkannya para imigran di sektor perkebunan, Suriname mengalami kemajuan pula dalam beberapa bidang lainnya. Telekomunikasi, pembuatan jalan raya dan pembukaan jalur hubungan laut langsung antara Suriname dan Belanda. Namun sebenarnya tak semuanya adalah etnis Jawa. Selain orang Jawa juga terdapat suku Sunda, Madura, dan lain-lain.

Namun karena mayoritas kuli kontrak itu adalah etnis Jawa, suku-suku selain Jawa berasimilasi sebagai orang Jawa. Dilihat dari asalnya, kurang lebih 70% orang Jawa berasal dari Jawa Tengah, 20% dari Jawa Timur dan 10% dari Jawa Barat. Kurang lebih 90% termasuk etnis Jawa; 5% Sunda; 2,5% Madura dan 2,5% suku lain, termasuk juga orang-orang dari Batavia (kini Jakarta).

Ada Rasa Indonesia di SurinameFoto: Peluncuran satelit Telkom 3S (detikINET/Achmad Rouzni Noor II)

Di antara suku Jawa tersebut, mayoritas berasal dari Karesidenan Kedu (Kabupaten Magelang dan sekitarnya). Itulah sebabnya, bahasa Jawa yang dituturkan di Suriname mirip dengan bahasa Jawa Kedu. Bahasa selain Jawa seperti Sunda, Madura sudah tak dituturkan lagi, dan tak memberi pengaruh apapun terhadap bahasa Jawa yang dituturkan di Suriname.

Pada tanggal 25 Februari 1980, lima tahun setelah kemerdekaannya, Suriname diguncang oleh kudeta yang dilancarkan pihak militer yang dilakukan oleh para Sersan yang dipimpin Sersan Mayor Desiree Delano Bouterse dan Sersan Roy Dennis Horb. Peristiwa kudeta ini telah mengakibatkan jatuhnya Pemerintah Demokrasi Parlementer pertama sejak kemerdekaan Suriname.

Sebagai reaksi terhadap pemberontakan tersebut, pada tanggal 8 Desember 1982 pihak militer melakukan penembakan terhadap 15 tokoh oposisi demonstran. Peristiwa ini telah menjadi penyebab bagi dihentikannya bantuan pembangunan Belanda kepada Suriname, yang berdampak pada semakin buruknya kondisi perekonomian Suriname.

Pemerintah militer diakhiri dengan penyelenggaraan pemilihan umum pada bulan November 1987, yang telah mengembalikan kekuasaan pemerintah kepada golongan sipil. Namun, pemerintahan hasil pemilu ini tidak berjalan lama.

Singkat cerita, sejak pelaksanaan Pemilu 25 Mei 2000, mengantarkan kembali R.R. Venetiaan (NPS) ke tampuk kursi kepresidenan dan memimpin Suriname untuk masa 5 tahun (tahun 2000-2005). Saat ini Presiden Suriname dijabat oleh Dési Bouterse dari partai National Democratic, yang diangkat sejak 20 Agustus 2010, beliau berasal dari partai National Democratic.

Ada Rasa Indonesia di SurinameFoto: Satelit Telkom 3S yang ditandatangani CTO Telkom Group, Abdus Somad Arief (detikINET/Achmad Rouzni Noor II)

Populasi Suriname terdiri dari beberapa kelompok minoritas. Kelompok terbesarnya adalah Hindustani. Berdasarkan data statistik dari Biro Pusat Administrasi Kependudukan Suriname, jumlah penduduk Suriname pada sensus tahun 2003 tercatat 481.146 orang, dimana 14,7% merupakan suku jawa, sebagian besar Hindustan sedang selebihnya suku Kreol, Tionghoa dan lain-lain dan mayoritas beragama Kristen sedangkan Islam hanya 13,5%.

Bahasa resmi di Suriname adalah Bahasa Belanda, juga bahasa Sranang Tongo, bahasa Hindustani, bahasa Jawa Suriname, dan lainnya. Ada juga bahasa asal bahasa Karibia dan bahasa Arawakan, orang India Suriname. Selain itu, bahasa Inggris juga digunakan luas, terutama dalam fasilitas dan toko yang berorientasi pariwisata.

Itulah sekilas profil negara Suriname yang kami dapatkan, kami sungguh bersyukur dapat berkunjung ke Suriname bersama Duta Besar Indonesia untuk Suriname, Bapak Tikto orang Jogja asli. beliau begitu respek dan sangat membantu kami sehingga perjalan kami ke Suriname berjalan lancar.

Perjalanan kami menghabiskan waktu lebih kurang 5 jam, yaitu 2 jam perjalanan darat hingga perbatasan, dilanjutkan naik kapal ferry selama 30 menit, kemudian dilanjutkan naik darat selama 2 jam sampai di Ibukota Paramaribo.

Sebelum masuk ke kota Suriname, kami terlebih dahulu mampir di salah satu warung milik orang Suriname keturunan Jawa, namanya Warung bu Toeti, sungguh terasa sekali nuansa jawanya, selain pemilik warung masih berbahasa Jawa, juga desain dan warna yang disajikan sangat Jawa, ada kain batik dan gambar wayang-wayang Jawa, serta makanan yang disajikan adalah makanan khas Jawa seperti telo teri, soto, goreng tahu, dan urap.

Sungguh kami merasa seperti mudik ketika Lebaran di Indonesia. Setelah makan siang, kami melanjutkan berkunjung ke lokasi pertama orang jawa atau para imigran jawa tiba di Suriname pada tahun 1890. Konon cerita saat itu jumlah orang jawa yang diturunkan lebih kurang 3000 orang dari hindia Belanda yang semuanya disalurkan ke kebun-kebun maupun pabrik gula milik Belanda.

Kamipun juga tak lupa mampir di pabrik gula di Parimaribo, begitu tiba kami disambut oleh Bapak tua keturuan Jawa, namanya Pak Bimbo. Beliau sangat antusias ketika menjawab pertanyaan asal kami dari Indonesia. Beliau langsung membawa kami ke sudut-sudut lokasi pabrik dengan Bahasa Jawa medok.

Ada Rasa Indonesia di SurinameInfografis peluncuran satelit Telkom 3S (detikINET/Achmad Rouzni Noor II)

Menurut cerita beliau bahwa dulu hampir sebagain besar buruh pabrik adalah orang Jawa, selebihnya orang India keling dan orang Kreol. Sayang pabrik ini sudah tidak beroperasi lagi semenjak Belanda melepaskan diri pada tanggal 25 November 1975, sebagai dampaknya kebun-kebun tebupun di Suriname lenyap. Para pekerja yang tadi bekerja di pabrik tebu beralih kerja di kota Suriname sebagai buruh-buruh toko dan lain-lain.

Setelah mengunjungi pabrik gula, rombongan pun sepakat untuk mampir salat di Masjid Darul Falah dimana pengurusnya adalah Ustadz Sobri, asli dari Cilacap dan masih WNI. Beliau juga sebagai Ketua Nurusobri Islamic Foundation of Suriname.

Selesai beramahtamah dengan Ustadz Sobri, rombongan melanjutkan perjalanan ke hotel untuk beristirahat karena pada malam harinya kami akan dijamu oleh Pak Tikto untuk makan malam, sekaligus beliau akan mengenalkan ke beberapa pengusaha Jawa-Suriname.

Penganut Islam keturunan jawa masih ada yang kiblatnya ke arah barat, karena masih memegang kebiasaan leluhurnya dulu di Indoensia yang salat mengarah ke arah barat. Yang benar di Suriname, kiblatnya adalah ke arah Timur. Meskipun berbeda, kerukunan antar agama di Suriname sangat baik, dan sejarahnya tidak ada konflik terjadi karena persoalan agama.

Tepat setelah habis magrib, kami memenuhi undangan makan malam Duta Besar Indonesia untuk Suriname Bapak Tikto, dalam jamuan makam tersebut selain didampingi oleh Istri beliau hadir pula beberapa pengusaha lokal Suriname keturunan Jawa, yaitu Marciano Dasai, Direktur Wahida Collections, Jurmic Kartodongso, Direktur Jammie dan Suja Management.

Kemudian Erwin Atmodimedjo, Managing Director of Solve IT. Marciano punya usaha di bidang pakaian dan furniture yang diimpor dari Indonesia. Beliau kuliah S1, S2 di UGM dan sekarang masih menyesaikan S3-nya di UGM.

Jumic, beliau adalah seorang entertainment yang sangat terkenal di Suriname dengan grup lawaknya Dast Cabaret--selain beliau juga sebagai pengusaha restoran dan sosis terkenal. Sedangkan Erwin adalah pengusaha di bidang IT, dan Jim pemilik Rumah Sakit dan Pembiayaan Syariah.

Keesokan harinya, 16 Februari 2017, Pak Bagya dan Pak Ismail dari Kominfo diajak oleh Bapak Tikto bertemu beberapa pengusaha Suriname untuk melihat kemungkinan kerjasama bisnis atau usaha dengan pengusaha Indonesia. Beberapa peluang usaha yang ditawarkan adalah di bidang industri kayu/furniture, tambang dan wisata.

Dari pertemuan tersebut, para pengusaha Suriname pada bulan Maret 2017 akan berkunjung ke Indonesia untuk bertemu beberapa pengusaha dan BUMN terkait untuk membicarakan kemungkinan kerjasama usaha yang akan difasilitasi oleh saya dan Pak Ismail yang akan dikoordinasikan oleh Kedutaan Besar RI di Suriname.

Sudah 2 malam kami di Suriname, sebelum kami ke Bandara untuk pulang ke Indonesia kami menyempatkan diri untuk berkeliling kota Suriname, berkunjung ke rumah-rumah peninggalan Belanda dan Istana Presiden Suriname. Di pasar-pasar, kami banyak menjumpai orang-orang keturunan Jawa dan masih bisa berkomunikasi dalam bahasa Jawa, termasuk barang-barang yang dijual ada batik ada lukisan khas jawa dan souvenir-souvenir bernuansa jawa.

Radio pun masih kami dengar lagu-lagu Jawa. Salah satu radio yang cukup terkenal disana adalah radio Mustika yang juga masih berbau jawa. Sungguh banyak cerita dan pengalaman menarik yang kami dapat. Rasanya tidak cukup dan mampu kami tulis di sini. Yang jelas, kami merasa Indonesia ada di Suriname, dan mudah-mudahan rasa itu terus terjaga. Semoga, budaya Jawa tetap terjaga dan menjadi bagian dari kekayaan budaya Suriname.

Kami harus segera berangkat ke bandara, karena jadwal kami harus kembali ke Jakarta melalui Amsterdam tepat pukul 14.00 waktu Suriname. Selamat tinggal Suriname.


*) Tulisan ini merupakan catatan perjalanan Bagya Mulyanto, Asisten Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis dan Media, Kementerian BUMN, selama mengikuti perjalanan untuk menyaksikan peluncuran satelit Telkom 3S. (rou/rou)
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed