Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
AI Tak Akan Gantikan Developer, Skill Gap yang Lebih Berbahaya

AI Tak Akan Gantikan Developer, Skill Gap yang Lebih Berbahaya


Adi Fida Rahman - detikInet

Ilustrasi Coding
AI Tak Akan Menggantikan Developer, Skill Gap yang Lebih Berbahaya. Foto: Dall E3
Jakarta -

Kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan (AI) akan menggantikan pekerjaan programmer semakin sering terdengar seiring pesatnya perkembangan AI coding agent seperti Codex.

Namun, menurut Codex Ambassador pertama di Indonesia, Naufaldi Rafif, ancaman terbesar justru bukan AI itu sendiri, melainkan kesenjangan kemampuan atau skill gap antara developer yang sudah memanfaatkan AI dan mereka yang belum.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Naufaldi menilai developer tidak perlu takut kehilangan pekerjaan hanya karena hadirnya AI. Sebaliknya, mereka perlu mulai belajar berkolaborasi dengan teknologi tersebut agar tidak tertinggal dalam persaingan industri.

"Daripada hanya khawatir AI coding agent menggantikan pekerjaan kita, menurut saya lebih baik khawatir dengan skill gap antara developer yang sudah belajar menggunakan AI dan yang belum," ujarnya dalam wawancara tertulis dengan detikINET.

Menurutnya, developer yang mampu memanfaatkan AI memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan produktivitas. AI dapat membantu mempercepat proses pengembangan aplikasi, membangun produk sendiri, hingga membuka peluang karier yang lebih luas.

Naufaldi Rafif, Codex Ambassador pertama di IndonesiaNaufaldi Rafif, Codex Ambassador pertama di Indonesia Foto: dok. Pribadi

AI Bukan Pengganti Developer

Meski AI semakin pintar menulis kode, Naufaldi menegaskan teknologi tersebut sebaiknya diposisikan sebagai asisten kerja, bukan pengganti manusia.

Ia mengibaratkan AI coding agent sebagai pembantu yang menjalankan berbagai tugas, sementara developer tetap menjadi pihak yang mengarahkan dan mengambil keputusan.

"AI coding agent ini adalah pembantu kita dalam bekerja, sedangkan kita adalah managernya," kata Naufaldi.

Karena itu, developer tetap harus memahami seperti apa kode yang baik, kapan hasil AI layak digunakan, dan kapan perlu diperbaiki.

Naufaldi turut mengingatkan bahwa AI masih memiliki keterbatasan. Salah satunya adalah potensi menghasilkan informasi yang keliru atau hallucination.

Oleh karena itu, hasil yang diberikan AI tidak boleh langsung diterapkan begitu saja tanpa melalui proses pengujian dan validasi.

"Jangan percaya AI 100%. AI bisa bias, salah, dan halusinasi. Karena itu walaupun kita bekerja menggunakan AI, kita tetap harus belajar dan memahami apa yang dikerjakan AI. Hasilnya perlu dikoreksi, diuji, atau dibandingkan dengan AI lain jika perlu," jelasnya.

Menurutnya, AI memang mampu mempercepat pekerjaan, tetapi tanggung jawab atas kualitas hasil akhirnya tetap berada di tangan developer.

Codex Community MeetupCodex Community Meetup Foto: dok OpenAI

AI adalah Partner Belajar

Di era AI coding agent, kemampuan teknis seperti menulis kode bukan lagi satu-satunya faktor pembeda. Naufaldi menilai developer tetap harus memiliki judgment, kemampuan melakukan debugging, serta keterampilan meninjau hasil kerja AI.

Ia menegaskan bahwa developer yang kuat bukanlah mereka yang menerima semua jawaban AI tanpa berpikir, melainkan mereka yang mampu mengarahkan AI, memvalidasi hasilnya, dan memperbaiki jika ditemukan kesalahan.

Selain itu, kemampuan memberikan instruksi atau prompt yang tepat juga semakin penting. Dengan arahan yang jelas, AI dapat menghasilkan solusi yang lebih relevan dan efisien.

Naufaldi juga melihat AI coding agent sebagai sarana belajar yang efektif, terutama bagi developer pemula. Namun, ia mengingatkan agar AI tidak dijadikan sumber jawaban mutlak.

"Menurut saya, developer yang kuat di era AI bukan yang paling cepat menerima jawaban AI, tapi yang paling baik dalam mengarahkan, memvalidasi, dan memperbaiki hasilnya," pungkasnya.

(afr/rns)








Hide Ads
LIVE