Menurut Division Head Device Planning and Management Smartfren Telecom Sukaca Purwakardjono, kondisi ini merupakan tantangan tersendiri bagi perusahaannya sebagai pemain baru di industri seluler.
Nah, terkait isu monopoli tersebut, menurut Sukaca, bisa dijadikan cambuk pelecut guna meningkatkan semangat perusahaan, khususnya dalam memperluas cakupan jaringan di luar Pulau Jawa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sukaca melihat situasi saat ini, operator besar seperti Telkomsel bisa jadi sebesar itu karena telah lebih dulu hadir pada tahun 1995. Sehingga wajar saja jika jaringan anak usaha Telkom itu jauh lebih kuat jika dibandingkan Smartfren yang baru hadir 15 tahun kemudian.
Sementara menurut Vice President Special Project Network Smartfren Telecom, Munir Syahda Prabowo, mereka harus menghitung ulang investasi yang akan dikeluarkan jika ingin serius menggarap pasar pelanggan baru di luar Jawa.
"Kalau kita inginnya, bangun ya bangun saja, sesuai kecukupan investasi. Kendalanya link atau backbone dari dan keluar Jawa itu terbatas. Jadi kalau mau keluar Jawa, kita harus hitung ulang investasinya," jelasnya saat ditemui detikINET di sela kesempatan yang sama.
Terkait rencana pemerintah merevisi PP No. 53/2000 tentang telekomunikasi yang di dalamnya juga disebut-sebut ada aturan terkait tentang network sharing, Munir yang telah makan asam garam soal pembangunan jaringan, mengaku setuju-setuju saja.
"Bagi challenger seperti Smartfren, tentu network sharing besar manfaatnya. Nggak boros investasi, bisa maju bareng-bareng. Tapi apa yang ditumpangi nantinya mau sharing? Kalau mau duduk bareng, ya bisa jalan bareng bangunnya. Tapi kalau nggak bisa ya sendiri-sendiri," seloroh Munir.
(rou/rou)