Seperti diketahui, Tri hanya punya 10 MHz di spektrum 1.800 MHz dan 10 MHz lagi di 2.100 MHz. Total mereka cuma punya 20 MHz untuk menggelar 2G (5 MHz), 3G (10 MHz), dan terakhir 4G (5 MHz).
Jika dibandingkan dengan pesaingnya, semisal Telkomsel, Indosat, XL Axiata, atau bahkan Smartfren Telecom, frekuensi milik Tri tak ada apa-apanya. Keempat operator itu punya lebar spektrum 40 MHz lebih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada di satu kota kami alokasikan 5 MHz jika layanan suara dan SMS masih dominan. Tetapi ada juga 10 MHz jika kebutuhan data tinggi," ujarnya di Lotte Avenue, Jakarta, Rabu (30/3/2016).
Untuk saat ini, jaringan 4G Tri telah beroperasi di Batam, Pontianak, Makassar, Jakarta, Bandung, dan Denpasar. Tri belum berencana membuka akses di kota lain karena keterbatasan frekuensi.
"Itulah kalau di 4G ini mungkin saja di satu kota kami kalah kapasitas dari pesaing, tetapi bisa saja di kota lain kita menang banyak," kata Danny lebih lanjut.
Seperti diketahui, Tri saat ini melayani 55,5 juta pelanggan seluler yang 80% di antaranya sudah menggunakan smartphone dan 7% dari situ sudah menggunakan smartphone 4G.
Dengan trafik data yang sudah mendekati Telkomsel dengan angka 1.200 TB per hari, sampai kapan Tri mampu bertahan? Apalagi diprediksi, hingga akhir 2016 nanti, akan ada sekitar dua sampai tiga juta pelanggan Tri yang menggunakan 4G.
"Saya prediksi kalau dengan 5 MHz, ya kita masih bisa layani 4G untuk dua tahun ke depan (2018). Itulah harapan kami pemerintah secepatnya buka tender frekuensi 3G dan langsung dinetralkan. Ini agar kita bisa tambah kapasitas," tutupnya. (rou/fyk)