Rabu, 16 Mar 2016 18:47 WIB

3 Operator Tanggapi Isu Ancaman Balon Google

Ardhi Suryadhi - detikInet
Foto: detikINET/Ardhi Suryadhi Foto: detikINET/Ardhi Suryadhi
Jakarta - Kehadiran balon internet Google masih menuai pro kontra. Mereka yang kontra menyoroti soal ancaman terhadap infrastruktur telekomunikasi eksisting di Indonesia hingga soal mata-mata.

Opini soal balon Google yang tengah ramai dibicarakan salah satunya merupakan postingan dari mantan Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal.

"Kita senang ada seratus lebih balon udara melayang di khatulistiwa merekam semua prilaku dan gerak gerik tingkah laku penduduk Indonesia. Kita lupa kehadiran balon udara itu akan menghancurkan manfaat infrastruktur fiber optik yang telah ditanam oleh perusahaan nasional kita selama sepuluh tahun terakhir. Palapa Ring kini punya ancaman, data dan informasi apa saja kini diserahkan dengan sukarela dalam kendali private company international".

"Kita kini tidak lagi takut setiap jengkal tanah Indonesia dipetakan satu demi satu dan semua informasi tentang kekayaan Indonesia jadi milik private company bernama Google. Kita takut emas dieksplorasi Freeport tapi kita tak pernah khawatir jika di era internet of things dan di era big data, emas informasi kita dikuasai Google".

"Padahal ketika ada satelit masuk alur udara kita semua bilang awas bahaya mata mata. Ketika saham indosat dibeli perusahaan asing semua khawatir data penting bisa disedot satelit milik indosat (padahal perusahaan ini masih ada di Indonesia sementara google tidak)," demikian kutipan dari postingan Jusman di akun Facebooknya, Rabu (16/5/2015).

Kekhawatiran soal balon Google di atas sejatinya bukan hal baru, dan isu ini pun pernah coba diredakan oleh Menkominfo Rudiantara.

"Kalau khawatir dimata-matai balon Google, sebenarnya kita punya ratusan ribu BTS di darat yang mesti lebih dikhawatirkan," kata Menkominfo Rudiantara beberapa waktu lalu menerima kedatangan pendiri Google Sergey Brin di kantor Kemenkominfo.

Sanggahan serupa juga diutarakan oleh Vice President Technology and System Telkomsel Ivan Cahya Permana. Menurutnya, secara umum tak perlu dikhawatirkan terkait keberadaan balon internet Google ini. Pasalnya, yang ditargetkan oleh balon ini adalah coverage yang luas dengan kapasitas terbatas.

"Kalau kita membicarakan Palapa Ring itu kita berbicara kapasitas. Artinya untuk kapasitas tetap saja harus jalan darat tapi untuk coverage bisa pakai teknologi balon ini," jelas Ivan.

"Sementara terkait kekhawatiran adanya mata-mata, ini perlu kajian bersama. Memang segala sesuatu pasti ada risikonya," lanjutnya.

Kehadiran balon yang punya nama Project Loon ini juga dilihat Ivan belum sampai dalam taraf mengancam operator. Lantaran untuk saat ini balon tersebut konfigurasinya sebagai BTS. Singkatnya, balon ini cuma BTS terbang.

"Jadi kalau dilhat dari struktur industri belum ada ancaman yang nyata. Google ini seperti salah satu tower provider cuma towernya di langit," Ivan menandaskan.
Tri Wahyuningsih, General Manager Corporate Communication XL Axiata menambahkan, ketika memutuskan meneken nota kesepahaman untuk melakukan uji teknis balon Google ini, operator pastinya punya banyak pertimbangan. Termasuk jika nantinya balon Google bakal diimplementasikan secara nyata, tak sekadar pengujian.

"Banyak faktor diperhitungkan, yang pasti saat ini karena kita belum benar-benar melakukan ujicoba kita belum tahu. Tapi seperti yang disampaikan Bu Dian (Siswarini, Presiden Direktur XL Axiata) jika selama itu bisa memberi dampak positif bagi perluasan jaringan masyarakat indonesia, kita akan coba. Tapi jika pas diuji ada yang kurang sesuai, ya itu juga jadi pertimbangan kita," ungkapnya.

Sementara Head of Communication Indosat Adrian Prasanto juga menegaskan bahwa balon internet Google ini belum masuk dalam taraf mengancam bisnis operator.

"Kan loon hanya menjadi tambahan dari BTS yang dimiliki operator untuk memperluas penetrasi internet di Indonesia," singkatnya. (ash/asj)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed