Rabu, 16 Mar 2016 16:26 WIB

Kekhawatiran Mantan Menhub Jusman Syafii Soal Balon Google

Ardhi Suryadhi - detikInet
Jusman Syafii Djamal (Foto: Ari Saputra) Jusman Syafii Djamal (Foto: Ari Saputra)
Jakarta - Telkomsel, Indosat Ooredoo dan XL Axiata telah sepakat untuk menguji balon internet Google di Indonesia. Namun kehadiran balon yang dikenal sebagai Project Loon itu menuai kekhawatiran mantan Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal.

Jusman menuliskan kekhawatirannya tersebut di akun Facebooknya. Namun postingan itu memang tak bisa dilihat secara bebas alias dibatasi hanya untuk teman-teman Jusman.

detikINET sendiri telah mengkonfirmasi ke pria yang juga menjabat sebagai Komisaris Utama Garuda Indonesia itu dan sudah mendapat izin untuk mempublikasi postingannya.

Berikut buah pikiran Jusman terkait balon Google.

-----      

Mengapa balon udara Google boleh mengumpulkan informasi di wilayah udara Indonesia?

Di halaman 16 Harian Tempo 16 Maret 2016, hari ini kita bersuka cita karena balon internet Google dimulai. Kita senang ada seratus lebih balon udara melayang di khatulistiwa merekam semua perilaku dan gerak-gerik tingkah laku penduduk Indonesia.

Kita lupa kehadiran balon udara itu akan menghancurkan manfaat infrastruktur fiber optik yang telah ditanam oleh perusahaan nasional kita selama sepuluh tahun terakhir. Palapa Ring kini punya ancaman, data dan informasi apa saja kini diserahkan dengan sukarela dalam kendali private company international.

Kita kini tidak lagi takut setiap jengkal tanah Indonesia dipetakan satu demi satu dan semua informasi tentang kekayaan Indonesia jadi milik private company bernama Google. Kita takut emas dieksplorasi Freeport tapi kita tak pernah khawatir jika di era Internet of Things dan di era Big Data, emas informasi kita dikuasai Google.

Padahal ketika ada satelit masuk alur udara kita semua bilang awas bahaya mata-mata. Ketika saham Indosat dibeli perusahaan asing semua khawatir data penting bisa disedot satelit milik indosat (Padahal perusahaan ini masih ada di Indonesia sementara Google tidak).

Ini mungkin yang disebut dengan pepatah waspada pada semut di ujung lautan, gajah di pelupuk mata bebas bergendang dan menari?

Di mana makna keamanan teritorial kita? Kini dengan seratus balon udara tiap rumah, bangunan dan markas militer kordinatnya telah dapat diimplant ke dalam Google Maps dan GPS dengan akurasi dan presisi amat tinggi. Sebab tiap tiga balon udara bisa definisikan satu titik xyz dalam ruang dengan kekeliruan 0,000001.

Di Amerika sendiri tak mungkin Google atau Telkom Indonesia yang listed di New York Stock Exchange dibolehkan mengoperasikan ratusan balon udara untuk memetakan Pentagon dan objek vital lainnya. Sebab takut akan akibatnya. Setiap orang bisa memanfaatkan ratusan balon udara untuk gunakan smart vechicle, smart weapon dan drone dalam genggamannya untuk mudah masuk ke pintu depan rumah melanggar privasi dan security?

Mudah-mudahan ini hanya ketakutan pribadi saya yang pernah belajar dan mendapatkan tugas mengembangkan ANSS (Aero Navigational Satellite Systems) di era tahun 94-an, 22 tahun lalu. Suatu studi yang juga telah memasukkan unsur teknologi balon udara untuk membimbing pesawat udara secara akurat mendarat di landasan.

-----
Kerja sama untuk menerbangkan balon Google sendiri telah disepakati bersama Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata saat mengunjungi markas Google, akhir November 2015 lalu. Balon Google itu rencananya akan menyebarkan sinyal 4G lewat udara di spektrum 900 MHz.

Balon Google ini nantinya akan terbang dan bergerak mengelilingi Indonesia di atas ketinggian 20 kilometer dengan radius pancaran sinyal 40 kilometer. Sinyal yang dihantarkan merupakan sinyal seluler 4G LTE dengan base station buatan Google sendiri.

Menurut Dian Siswarini, President Director & CEO XL Axiata, balon itu bisa terbang selama 150 hari di angkasa. Sebelum balon itu kempis, pihak Google akan mengarahkan lokasi pendaratan balon tersebut di daratan kosong, bukan di lautan, agar perangkat radio pemancarnya bisa diambil dan dimanfaatkan lagi.

Dian menjelaskan radio pemancar yang menempel di balon itu disediakan oleh Google, yang telah didesain khusus agar tahan terhadap air sampai angin kencang. Sementara itu, radio pada balon itu tetap terhubung dengan menara pemancar di darat milik operator seluler.

Dalam catatan, Google sendiri mengkalkulasi, Indonesia membutuhkan sekitar 6.000 balon jika ingin seluruh area Nusantara kebagian sinyal dari atas balon udara. Namun menurut President Director & CEO Indosat Alexander Rusli, yang diuji coba tak akan sebanyak itu. (ash/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed