Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
4G di 1.800 MHz Tuntas, Selanjutnya Lelang 3G di 2,1 GHz

4G di 1.800 MHz Tuntas, Selanjutnya Lelang 3G di 2,1 GHz


Achmad Rouzni Noor II - detikInet

BTS (dok.telkomsel)
Jakarta - Tuntasnya penataan frekuensi dan refarming 4G di 1.800 MHz tak membuat Menkominfo Rudiantara beserta timnya bisa ongkang-ongkang kaki. Bagi mereka, tak ada waktu untuk bersantai karena masih ada lanjutan tugas untuk tender 3G di 2,1 GHz.

Pembahasan untuk mempersiapkan panitia seleksi lelang dua kanal 3G di spektrum 2,1 GHz dijadwalkan akan berlangsung siang hingga sore ini, Selasa (17/11/2015), di kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Chief RA, panggilan akrab menteri, sempat bilang kepada detikINET bahwa seleksi untuk menentukan pemenang blok 11 dan 12 ini akan digelar paling lambat mulai awal 2016. Namun pembentukan tim untuk seleksi telah dimulai dari sekarang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dijelaskan olehnya, kedua blok 3G itu bisa saja dimenangkan oleh satu atau dua pemenang. Lelang ini sendiri hanya boleh diikuti oleh empat operator seluler GSM eksisting yang sudah lebih dulu mengantongi lisensi 3G di 2,1 GHz. Mereka adalah Telkomsel, Indosat, XL Axiata, dan Hutchison 3 Indonesia.

Menurut Rudiantara, jika yang menang cuma satu operator akan lebih mudah, karena tak perlu ditata ulang lagi. Namun kalau yang menang ada dua, itu berarti kita harus tata ulang kembali agar spektrum kanal mereka bisa tetap berdampingan.

"Jadi ini semua tergantung perlu refarming apa nggak di 2,1 GHz. Kalo nggak, ya langsung jalan saja," jelas menteri kepada detikINET.

Seperti diketahui, saat ini spektrum 2,1 GHz yang memiliki total lebar spektrum 60 MHz, telah ditempati oleh Tri di blok 1 dan 2 (10 MHz), Telkomsel di blok 3, 4, dan 5 (15 MHz), Indosat di blok 6 dan 7 (10 MHz), serta XL di blok 8, 9, dan 10 (15 MHz).

Sementara blok kanal 11 dan 12 yang tersisa alias masih lowong saat ini, merupakan bekas peninggalan Axis Telekomunikasi Indonesia yang dikembalikan ke pemerintah setelah perusahaannya diakuisisi oleh XL pada 2014 lalu.

Meskipun kosong, kedua blok itu masih bermasalah karena masih bersinggungan atau interferensi dengan frekuensi milik Smartfren (Smart Telecom) di 1.900 MHz. Pasalnya, proses perpindahan operator itu ke spektrum 4G di 2,3 GHz belum sepenuhnya tuntas dan diperkirakan baru rampung di tahun 2016.

"Jadi sekarang posisinya kita menunggu Smartfren pindah. Ini harus sama-sama dan tidak boleh ada yang tersandera. DI sini kita harus duduk sama-sama," pungkas menteri yang lama malang melintang di industri telekomunikasi ini bersama Indosat, Telkomsel, XL, dan Telkom ini.

(rou/ash)






Hide Ads