Saat ditemui usai uji jaringan 4G LTE di Malang, Rabu (29/7/2016), Roberto Saputra selaku Direktur Smartfren mengaku bakal mereview dulu sebelum memutuskan apakah ikut tender atau tidak.
Menurutnya, keputusan tersebut harus dipikirkan matang-matang. Sekali salah spektrum, akibatnya bakal fatal. Karena itu Smartfren memilih untuk melakukan kajian yang menyeluruh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Robert mengatakan dirinya sependapat dengan pernyataan Menkominfo Rudiantara terkait lelang frekuensi. Dimana setiap operator harus menimbang nilai keekonomisan, perhitungan proyeksi ke depan dan ketersediaan ekosistem.
"Kita harus pula pertimbangkan ada tidak perangkat yang mendukung spektrum tersebut. Jadi kita harus menimbang matang-matang. Supaya saat kita ambil sebuah spektrum, device yang suport tersedia, nilai ekonomisnya untuk kami juga ada," kata Robert.
Terkait mengenai kebutuhan spektrum, Robert mengatakan untuk saat ini kapasitas yang ada sudah mencukupi. Tapi bila menghitung pertumbuhan ke depan, tentunya akan membutuhkan tambahan spektrum.
"Dibanding opertor lain, Smartfren memiliki lebar frekuensi yang lebih kecil. Nah, tentunya kalau ingin berkembang dengan cepat, kami butuh tambahan," ujar Robert.
Saat ini Smartfren mengisi spektrum 850 MHz (10 MHz) dan 2,3 GHz (30 MHz). Sebelumnya Smartfren harus melepas frekuensi selebar 13,75 MHz di 1.900 MHz pada akhir 2016 dan berpindah ke 2,3 GHz dengan jumlah frekuensi 30 MHz untuk menggelar TDD LTE.
(ash/ash)