Angka tiga sampai empat operator dinilai sudah yang paling ideal. Karena, sumber daya frekuensi yang saat ini sangat terbatas, nantinya bisa lebih maksimal dimanfaatkan untuk kepentingan melayani pelanggan.
Hal itu kembali disampaikan menteri yang akrab disapa Chief RA ini dalam rapat dengar pendapat bersama anggota dewan di Komisi I DPR RI, Jakarta, Rabu (10/6/2015).
"Idealnya tiga sampai empat operator saja," kata menteri.
Ucapan ini ditimpali celetukan beberapa anggota dewan. "Kenapa tidak sekalian sisa satu saja, pak menteri?"
"Jangan, kalau satu berarti monopoli, dong," balas menteri.
Agar bisa mencapai angka ideal itu, lanjutnya, konsolidasi antaroperator telekomunikasi mutlak diperlukan.
"Ini yang menjadi alasan saya mengapa selalu mendorong adanya kondolidasi," ujar Rudiantara.
Menurut dia, untuk menjalankan bisnis telekomunikasi, operator harus menguras sumber daya yang sangat besar.
Dari data yang ia paparkan, setiap tahun industri telekomunikasi harus mengeluarkan USD 5 miliar untuk keperluan belanja modal.
Ini merupakan salah satu hal yang dianggap memberatkan operator sehingga, dia memprediksi, suatu saat nanti bakal ada operator telekomunikasi yang tumbang menyusul dinamika iklim industri.
"Percayalah, nanti juga ada operator yang tumbang. Hanya masalah waktu saja," ujarnya menambahkan.
Dijelaskan oleh menteri, operator yang akan tumbang bisa diprediksi dari tiga hal, yaitu Capital Intensive, Technology Intensive, dan Regulasi Intensif.
Untuk Capital Intensive, pengusaha yang mau masuk bisnis telekomunikasi harus memiliki banyak modal. Jika tak punya dana besar, bisnis perusahaan akan terbengkalai.
Selanjutnya, dari kriteria Technology Intensive, dalam menjalankan bisnisnya, operator harus memiliki akses teknologi, jika tak punya akses maka akan mangkrak.
"Masalahnya, sebentar saja, teknologi perkembangannya itu cepat," kata dia. Hal lainnya yang mendorong bisnis operator telekomunikasi adalah regulasi.
"Nah, dari situ, dicek deh operator telekomunikasi mana saja yang punya itu semua. Terutama dari Capital Intensive-nya," pungkas menteri.
(rou/rns)