Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Soal Akusisi Menara, Telkom Belum Wajib Lapor KPPU

Soal Akusisi Menara, Telkom Belum Wajib Lapor KPPU


- detikInet

Menara telekomunikasi (detikINET)
Jakarta -

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menilai Telkom belum wajib lapor terkait rencananya mengakuisisi perusahan menara.

Juru bicara KPPU Mohammad Reza mengungkapkan institusinya pernah mengirimkan surat ke Telkom tahun lalu terkait rencana dari aksi korporasi ini.

"Dulu pernah KPPU suratin, tapi karena baru rencana mereka tidak wajib lapor. Silakan bila akan konsultasi. Namun bila sudah melaksanakan, maka wajib lapor," kata Reza kepada detikINET, Jumat (19/9/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rencana akuisisi yang akan dilakukan Telkom merupakan kelanjutan dari rencananya untuk memonetisasi anak usaha yang bergerak di bisnis penyediaan menara, PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel).

"Kita ingin membuka potensi valuasi dari Mitratel, soalnya ada peluang menjadi perusahaan terbesar. Rencana monetisasi yang sudah lama dirancang diharapkan tuntas pada triwulan pertama 2015," ungkap Direktur Keuangan Telkom Honesti Basyir.

Menurutnya, rencana monetisasi yang tengah dikaji adalah pola swap share dengan mitra strategis. Rencananya swap share akan melibatkan sekitar 49% saham dari Mitratel nantinya.

"Ada kemungkinan membelii saham perusahaan menara terbesar di Indonesia ditukarkan dengan 49% saham Mitratel. Kita bukan jual menara tapi mau jadi leader jadi artinya mau akuisisi perusahaan besar. Kita berharap menjadi perusahaan terbesar dalam bisnis menara," jelasnya.

Sebelumnya, perseron telah mengumumkan ada dua perusahaan menara yang menjadi pilihan. Kedua perusahaan itu adalah PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).

Dalam catatan, jumlah menara Mitratel sekitar 3.500 unit. Sedangkan, jumlah menara Telkomsel mencapai 14.000 unit. Mengutip laporan keuangan Telkom, aset sebelum elliminasi Mitratel per Juni 2014 sekitar Rp 8,45 triliun. Mitratel sebenarnya telah diwacanakan untuk ditingkatkan nilainya sejak 2011.

Pada 2013 diperkirakan omzet Mitratel sekitar Rp 1,98 triliun. Terakhir, Telkom menggandeng Barclays Capital untuk menggelar tender guna mencari mitra strategis bagi Mitratel.

Harusnya, jika proses ini mulus, kuartal pertama 2014 sudah diumumkan mitra strategis bagi 49% saham Mitratel yang ditaksir sekitar USD 500 juta. Namun, diperjalanan, banyak suara menolak rencana monetisasi Mitratel yang cenderung memilih jalan swap share tersebut.

(rou/ash)




Hide Ads