Rabu, 17 Sep 2014 10:36 WIB

Mantan Dirut IM2 Dibui

Ironi Indar

- detikInet
Indar Atmanto (mencari-keadilan.com) Indar Atmanto (mencari-keadilan.com)
Jakarta - Indar Atmanto bukanlah nama asing di industri telekomunikasi. Jadi ketika mantan Direktur Utama Indosat Mega Media (IM2) ini dijerat kasus penyalahgunaan frekuensi, banyak yang menyayangkan. Bahkan komunitas telekomunikasi sampai Menkominfo Tifatul Sembiring pun turut memberikan pembelaan.

Tifatul pada 13 November 2012 telah mengirim surat resmi kepada Jaksa Agung perihal kasus tersebut sebagai klarifikasi dari regulator. Surat bernomor T 684/M.KOMINFO/KU.O4.01/11/2012 tersebut menegaskan bahwa kerjasama Indosat dan IM2 telah sesuai aturan.

Namun ternyata, pembelaan dari menteri, keterangan dari Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Amicus Curae, dan para saksi ahli yang dihadirkan di pengadilan kurang sakti.

Sebab, palu keputusan bersalah tetap diketok hakim. Termasuk saat melakukan perlawanan di tingkat Pengadilan Tinggi dan kasasi di Mahkamah Agung, Indar masih dianggap bersalah. Sampai pada akhirnya, Selasa (16/9/2014), Indar dieksekusi untuk merasakan dinginnya bui LP Sukamiskin.

Indar tercatat pernah menjadi CEO IM2 pada periode 2006-2012. Saat ini sejatinya ia juga masih menjadi Ketua Bidang Internet dan Data Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) periode 2012-2015.

Dan sejak Agustus tahun 2011, menjabat sebagai Chief Corporate Services Officer Indosat serta sebagai Komisaris Utama di IM2.

Seperti dikutip dari mencari-keadilan.com, Indar disebutkan merintis karirnya dari bawah. Ia menjejakkan kaki di Indosat pada 1986 setelah lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Teknik Industri.

Berkat keuletan dan kepiawaiannya dalam mengelola industri telekomunikasi, pria yang hobi membaca buku dan fun bike saat car free day ini lalu diberangkatkan oleh Bappenas OTO Pemerintah Indonesia dan Indosat untuk menimba ilmu Master of Business Administration di University of Miami, Amerika Serikat. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ia mengambil dua konsentrasi sekaligus, Master of Business Administration dan Master Corporate Finance.

Selepas dari Miami (1993), Indar langsung mengambil posisi di Pengembangan Usaha Indosat. Karena pengetahuannya dikenal sangat luas Indar mendapat kesempatan untuk berkarir di berbagai divisi. Setelah di Pengembangan Usaha, ia masuk di bagian pengadaan, SDM, Marketing, Bisnis Strategy, Corporate Strategy, hingga pada 2006 diangkat menjadi Direktur Utama IM2.

Banyak inisiatif yang telah diambil oleh ayah dari dua anak ini selama masa jabatannya di IM2, sebagai penggerak utama dari layanan Mobile Broadband di Indonesia, sehingga kinerja IM2 diakui oleh operator lainnya di pasar dan menerima banyak penghargaan, baik pengakuan nasional maupun internasional.

Seperti Juara The Wireless Broadband Paling Inovatif dari WBA (World Broadband Alliance). Meraih Top Brand Award, dan Call Center Award dari lembaga terkemuka di Indonesia. Bahkan pada 2010, pemerintah RI memberikan penghargaan Satya Lencana Winarkarya atas kontribusinya mengembangkan Mobile Broadband di Indonesa.

Di masa lalu, Indar tercatat juga telah memegang posisi tingkat dewan di berbagai perusahaan seperti Komisaris PT EDI (Electronic Data Interchange), Komisaris PT Indosat Mutimedia Mobile (IM3), Komisaris PT Satelindo, serta Direktur PT Bimagraha Telekomindo. Ia juga menghabiskan pengalaman profesional di berbagai posisi manajemen di PT Indosat termasuk Sekretaris Perusahaan, Corporate Strategic Pembangunan-General Manager, dan Pemasaran-General Manager.

Sayang, rekam jejak Indar yang mentereng kini harus diusik dengan vonis pengadilan yang membelitnya. Indar dinyatakan bersalah atas kasus dugaan korupsi pengadaan jaringan 2,1 GHz/3G Indosat dan divonis 8 tahun bui.

Kejaksaan Agung (Kejagung) pun telah mengeksekusi putusan kasasi Indar. Selain penjara selama 8 tahun, Indar juga harus membayar denda Rp 300 juta subsider kurungan 6 bulan.

Dalam putusan Kasasi itu, MA juga menghukum IM2 untuk membayar uang pengganti Rp 1.358.343.346.670. Kejagung selaku eksekutor akan memerintahkan IM2 untuk membayar uang pengganti tersebut.

Putusan MA tersebut diketok oleh ketua majelis Artidjo Alkostar dengan anggota majelis MS Lumme dan M Askin. Putusan yang diketok pada 10 Juli 2014 lalu itu dengan panitera pengganti Linda Simanihuruk.

Awal Mula Kasus

Perkara tersebut bermula setelah Indar melakukan perjanjian kerja sama dengan PT Indosat untuk penggunaan bersama frekuensi 2,1 GHz. Kerja sama itu dinyatakan melanggar peraturan-perundangan yang melarang penggunaan bersama frekuensi jaringan.

Penggunaan bersama frekuensi tersebut menyebabkan PT IM2 tak membayar biaya pemakaian frekuensi. Kerja sama selama periode 2006 sampai 2012 tersebut menurut Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) merugikan keuangan negara Rp 1,358 triliun.

Pada 8 Juli 2013, Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan hukuman kepada Indar selama 4 tahun penjara. Majelis hakim yang diketuai Antonius Widijantono menjatuhkan hukuman pidana uang pengganti kepada IM2 sebesar Rp 1,3 triliun.

Vonis ini diperbaiki oleh Pengadilan Tinggi Jakarta yaitu menambah hukuman Indar menjadi 8 tahun penjara dan menghapus pidana uang pengganti Rp 1,3 triliun. Atas vonis itu, baik jaksa maupun terdakwa sama-sama mengajukan kasasi tapi kandas.

(ash/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed