"Kalau saya dari awal konsisten untuk mengikuti konstitusi, yakni spektrum frekuensi itu tidak bisa diperjualbelikan. Spektrum itu merupakan sumber daya terbatas milik negara. Kita (operator) memanfaatkan spektrum itu dengan cara menyewa," kata Alex, saat ditanya soal kemungkinan melakukan akuisisi demi mendapatkan tambahan frekuensi.
"Jadi tidak bisa membeli suatu perusahaan dengan alasan untuk mendapatkan frekuensi, sedangkan perusahaan yang dibeli tadi langsung ditutup," jelasnya saat ramah tamah dengan media di Wisma Mulia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Telkomsel saat ini memiliki spektrum selebar 7,5 Mhz di rentang pita 900 MHz, 22,5 MHz di 1800 MHz dan 15 Mhz di 2100 MHz. Adapun coverage anak usaha Telkom itu diklaim sudah mencapai 97% populasi penduduk dengan melayani 138 juta pelanggan dan diperkuat hampir 80 ribu BTS.
"Dengan 138 juta pelanggan, optimalisasi spektrum tentu kami lakukan. Sedangkan ada operator lain yang saya tidak perlu sebutkan namanya, punya jumlah pelanggan tak sampai setengahnya dari Telkomsel, tapi memiliki jumlah spektrum yang sama," Alex berujar.
Padahal tanpa perlu diminta, Telkomsel mengaku siap membayar biaya sewa atas tambahan spektrum yang diberikan. Mengingat jumlah pelanggan operator yang mengklaim 'Paling Indonesia' itu sudah jauh melebihi kompetitornya.
"Kita sudah membangun (BTS) lebih dari yang kita komitmenkan. Gak usah diminta, toh kita juga bayar kan. Mestinya gak usah diminta, harusnya datang ini. 'Hei Telkomsel pelanggan mu kan sudah 138 juta dari Sabang sampai Merauke dan spektrum mu kan kurang tuh. Ini kita tambahin tapi bayar ya'," papar Alex.
"Lah ini enggak. Ini kita mengemis-ngemis (frekuensi) gak dikasih. Orang lain sama-sama dikasih 300 meter. Padahal mereka cuma butuh 'dua kamar', dibiarin saja," pungkasnya.
(ash/tyo)