Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Secercah Asa di Tengah Sesaknya Bisnis Selular Indonesia

Secercah Asa di Tengah Sesaknya Bisnis Selular Indonesia


Ardhi Suryadhi - detikInet

Dirut Telkomsel Alex J. Sinaga (Ist.)
Jakarta -

Pasar telekomunikasi Indonesia kerap kali disebut sudah jenuh. Operator yang bermain terlalu banyak dan kompetisi yang terjadi pun jadi begitu sengit. Meski demikian, bukan berarti tak ada ruang untuk berkembang. Peluang itu tetap ada!

Menurut Direktur Telkomsel Alex J. Sinaga, sekalipun penterasi selular sudah mencapai hampir 100%, pasar di industri telekomunikasi khususnya selular sejatinya masih mempunyai ruang untuk berkembang.

Di tahun 2014, Industri operator selular diprediksi mampu tumbuh 7%-8%. Salah satu faktor pendorong pertumbuhan adalah rencana operator yang terus meningkatkan layanan data dengan menggelontorkan dana triliunan untuk memperkuat jaringan infrastrukturnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saat ini penetrasi internet di Tanah Air baru mencapai 25% dari total penduduk. Masih ada ruang pertumbuhan yang menjanjikan untuk selular, baik secara demografis, geografis, dan layanan selular baru seperti digital," ungkap Alex, dalam keterangannya, Jumat (20/12/2013).

Ia melanjutkan, ada tiga faktor sejatinya yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi pasar dan pada akhirnya dapat mendongkrak kinerja operator. Yakni komitmen pembangunan infrastruktur, inovasi layanan, dan keahlian sumber daya manusia (SDM). "Telkomsel selalu mengutamakan tiga faktor ini," kata Alex.

"Di 2014, Telkomsel juga akan terus memperkuat layanan data yang akan menjadi penopang pendapatan perseroan," lanjutnya.

Secara industri, Alex menambahkan, saat ini rata-rata 70% pendapatan operator berasal dari layanan suara dan pesan singkat (SMS), sedangkan 30% dari layanan data. Namun, porsi tersebut bisa terbalik dalam tiga sampai empat tahun mendatang. Dengan kata lain, kontribusi layanan data bisa mencapai 70% pada 2016.
Β 
Hal ini terkait dengan gencarnya perkembangan broadband dan smartphone, yang mampu mendorong perkembangan data dan digital business.

"Basic service seperti voice dan SMS tetap masih berperan penting untuk kebutuhan dasar konsumen dalam berkomunikasi, namun untuk 18 bulan ke depan kita akan melihat perkembangan yang cukup signifikan pada broadband dan digital business, dimana nantinya kedua hal ini akan menjadi pendapatan utama bagi operator," ungkap Alex.

Terkait dengan perkembangan broadband dan digital business tadi, ke depannya kompetisi untuk memenangkan pasar dinilai tidak lagi ditentukan oleh harga semata. Namun juga pada kekayaan konten dan kualitas jaringan yang baik.

"Oleh karena itu di tahun 2014 kami menetapkan tema The Smart Year, dimana kami akan meneruskan fokus pada digital business. Dimana saat ini kami bagi menjadi 4 portfolio yaitu digital lifestyle services, mobile payment and digital money, digital advertising, dan enterprise digital services," papar Alex.

"Selain itu sepanjang tahun ini dan tahun depan kami terus melakukan berbagai inovasi di antaranya dalam hal pelayanan dan jaringan. Untuk pelayanan, kami menghadirkan 268 Mobile GraPARI (MOGI) yang tersebar di seluruh Indonesia untuk menjangkau pelanggan-pelanggan hingga ke pelosok," lanjunya.

Lantaran kemampuannya yang dapat berpindah tempat, maka MOGI menjadi solusi penting, khususnya di tempat-tempat yang letaknya cukup jauh dari titik pelayanan Telkomsel. "Hal ini menunjukkan komitmen kami dalam menghadirkan layanan yang merata kepada pelanggan kami dimana pun mereka berada," Alex menegaskan.

Selain itu dari sisi jaringan, pada tahun ini Telkomsel menambah jumlah Compact Mobile BTS (COMBAT) hingga 400 unit guna memastikan ketersediaan jaringan hingga ke pelosok. COMBAT dapat menjamin kualitas jaringan di wilayah-wilayah tertentu yang memiliki kebutuhan khas dalam waktu yang cepat, khususnya saat momen hari Natal dan Tahun Baru.

Melirik M2M

Terkait peluang, bisnis telekomunikasi juga dianggap masih belum mengeksplorasi segmen korporat. Telkomsel sendiri sudah punya ancang-ancang untuk terjun lebih dalam ke segmen enterprise (korporat) pada tahun 2014 mendatang.

Pasalnya, anak usaha Telkom itu melihat adanya potensi untuk berkembang akibat meningkatnya tren dari Machine to Machine (M2M) di kalangan tersebut.

"Saat ini telekomunikasi juga bersinggungan dengan bisnis lainnya seperti di keuangan, periklanan, media dan lain sebagainya, sehingga hal ini membuka peluang bagi operator untuk masuk ke dalam bisnis tersebut," ungkap Alex.

Telkomsel hingga kuartal III 2013 diklaim Alex masih dalam kondisi finansial dan operasional yang kuat. Operator yang identik dengan warna merah itu mencatat pertumbuhan double digit untuk revenue, EBITDA dan net income.

Revenue tumbuh 10,4% YoY, yang ditopang oleh pertumbuhan data broadband, sementara EBITDA dan Net Income tumbuh sebesar 11,1% dan 11,9% YoY.

Pertumbuhan yang positif ini juga berdampak pada tumbuhnya customer base Telkomsel, dimana pada kuartal III 2013, mereka mendapat tambahan 2,8 juta pelanggan baru. Sehingga secara total jumlah pelanggan Telkomsel mencapai 128 juta.

"Adapun untuk tahun depan kami menargetkan 130 juta pelanggan dengan angka investasi yang sama dengan tahun ini sekitar Rp 10 triliun," pungkas Alex.

(ash/fyk)






Hide Ads