Selasa, 12 Nov 2013 08:54 WIB

Indonesia Masuki Era Baru Uang Digital

- detikInet
ilustrasi (ist)
Jakarta - Bank Indonesia akan segera menerbitkan regulasi baru tentang e-money setelah menguji coba branchless banking di delapan provinsi bersama lima bank dan tiga operator telekomunikasi. Pilot project yang bergulir sejak Mei dan berakhir November 2013 ini akan mendukung inklusi finansial dan less cash society.

Proyek uji coba branchless banking ini dikhususkan untuk layanan pembayaran dengan mengedepankan infrastruktur telekomunikasi yang sudah lebih dulu meraih pasar pengguna. Namun untuk penarikan dana tetap harus melalui agen perbankan yang ditunjuk dengan selektif dan ketat oleh pihak bank yang terlibat dalam proyek ini.

Bank Indonesia sendiri mencatat, jangkauan infrastruktur telekomunikasi saat ini telah mencapai angka 95% dan didukung 240 juta pengguna ponsel, serta dua juta agen retailer telekomunikasi. Sementara instrumen pembayaran berupa uang elektronik yang berbasis server, jumlahnya telah mencapai 12,5 juta. Sementara di sisi perbankan, Bank Indonesia memperkirakan 52% dari rumah tangga di Indonesia belum memiliki simpanan di lembaga keuangan.

Regulasi branchless banking ini akan diterbitkan Bank Indonesia pada akhir 2013 dan mulai diimplementasikan 2014. Dengan tersedianya payung hukum terbaru, para pemain di industri telekomunikasi dan perbankan sudah tak perlu ragu-ragu lagi untuk bersinergi. Imbasnya, peluang bisnis e-money pun kian terbuka lebar.

Bank Indonesia meyakini penggunaan uang elektronik dalam beberapa tahun mendatang akan tumbuh signifikan. Dengan e-money, akan memudahkan transaksi masyarakat tanpa perlu menggunakan uang tunai. Sejauh ini, e-money telah digunakan untuk transaksi micropayment di bawah Rp 5 juta. Meski nominalnya kecil, transaksi melalui uang elektronik di 2013 ini tercatat mencapai Rp 6,7 miliar per hari atau hampir Rp 2 triliun dalam setahun.

Bisa dilihat, angka itu tumbuh signifikan dari waktu ke waktu. Transaksi e-money pada 2009 tercatat sebanyak 48 ribu kali senilai Rp1,4 miliar per hari. Pada 2010 naik menjadi 73 ribu transaksi dengan nilai Rp1,9 miliar. Pada 2011, transaksi kembali meningkat mencapai 112 ribu transaksi dengan nilai Rp2,7 miliar. Di 2012, tercatat ada 219 ribu transaksi dengan nilai Rp3,9 miliar. Setiap tahunnya, transaksi e-money tumbuh 120%.

Beberapa bank yang telah mengeluarkan produk e-money di antaranya PT Bank Central Asia Tbk dengan produknya, Flazz, PT Bank Mandiri Tbk melalui Indomaret Card, Gaz Card, dan e-Toll. Sementara itu, PT Bank Mega Tbk dengan Studio Pass Card dan Smart Card, serta PT Bank Negara Indonesia Tbk mengeluarkan Java Jazz Card dan Kartuku.

Selain itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk mengeluarkan BRIZZI, BPD DKI Jakarta dengan produk Jak Card, PT Indosat Tbk mengeluarkan Dompetku, PT Skye Sab Indonesia dengan produk Skye Card, dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk mengeluarkan Flexy Card serta i-Vas Card. Sementara PT Telkomsel telah lama merilis T-Cash, PT XL Axiata Tbk mengeluarkan XL Tunai, dan PT Finnet Indonesia dengan produknya FinChannel.

Hingga Mei 2013, jumlah instrumen e-money sendiri telah tumbuh menjadi 25,3 juta dari 21,9 juta pada 2012. Dengan mulai banyaknya ragam kartu pintar, tak dapat dipungkiri bahwa Indonesia mulai memasuki era baru less cash society. Tingginya pembayaran dengan menggunakan ATM dan kartu kredit, mampu meredam peredaran uang tunai di masyakat. Bank Indonesia mencatat, jumlah transaksi uang kertas setiap tahunnya mencapai 6,2 juta dengan nilai sebesar Rp 260 triliun.

Meski begitu, penerapan less cash society di Indonesia masih terbatas, baik sisi jumlah maupun fungsinya. Dari 60 juta jumlah nasabah bank di Indonesia, baru 15 juta orang saja yang terbiasa menggunakan transaksi non tunai, baik kartu kredit, kartu debet maupun ATM. Ketiga transaksi itu, masih tegolong tahap dasar.

Tahap menengahnya adalah prepaid atau e-wallet. Transaksi jenis inilah yang belakangan mulai digarap secara serius oleh perbankan dan operator telekomunikasi, meski masih terbatas. Tahap lanjutan yang akan dilalui adalah transaksi non-tunai di tataran ritel. Pada tahap ini, less cash society sudah sangat konkret, karena obyek pembayaran meluas pada jaringan pusat perbelanjaan, merchant, transportasi dan bahkan e-commerce.

Menurut founder IndoTelko Forum Doni Darwin, para pemangku kepentingan yang berkaitan dengan e-money harus bekerja lebih keras lagi dalam membangun less cash society. Sebab, merujuk kepada hasil survei yang digelarnya, pemahaman masyarakat akan layanan e-money ini masih simpang siur.

"Harusnya Indonesia sudah bergerak dari tahap pengenalan ke tingkat lebih tinggi untuk mengembangkan e-money. Sudah saatnya semua ekosistem yang terlibat di uang digital ini berjalan beriringan dan melepas sekat-sekat pembatas agar less cash society benar-benar terwujud," jelasnya dalam keterangan yang diterima detikINET, Selasa (12/11/2013).

(rou/ash)