Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Bisnis LTE Diproyeksi Tembus USD 3,9 Miliar di 2019

Bisnis LTE Diproyeksi Tembus USD 3,9 Miliar di 2019


Achmad Rouzni Noor II - detikInet

Ilustrasi (Ist.)
Jakarta - Layanan seluler generasi keempat (4G) berbasis teknologi Long Term Evolution (LTE) memang belum beroperasi komersial di Indonesia. Namun begitu keran akses itu dibuka lebar, potensi bisnis pun diyakini akan mengalir deras.

Seperti dipaparkan biro riset Frost & Sullivan dalam analisa terbarunya, pasar LTE yang telah menghasilkan pendapatan sebesar USD 947,2 juta secara global di 2012, diproyeksi akan terus tumbuh meningkat empat kali lipat hingga mencapai USD 3,97 miliar di 2019.

Dalam keterangan yang diterima detikINET, Senin (4/11/2013), proyeksi terbaru bisnis LTE itu tertuang dalam studi yang bertajuk The Global Long-Term Evolution Test Equipment Market.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"LTE menjadi populer seiring dengan semakin banyaknya pengguna ponsel cerdas dan tablet, yang memerlukan tingkat sistem data yang lebih cepat dalam pengiriman data," ungkap Olga Shaphiro, Communication Test & Measurement Research Program Manager, Frost & Sullivan.

Dengan ekspansi LTE yang semakin tidak terelakkan, kata dia, permintaan untuk melakukan pengujian akan tumbuh dengan pesat mengingat kompleksnya sifat penyebaran jaringan LTE akibat adanya standar Multiple Input Multiple Output (MIMO).

Namun, mengakomodasi berbagai macam tingkat kompleksitas memerlukan waktu dan investasi dalam riset dan pengembangan (R&D), dimana kedua hal tersebut dapat menghambat pasar alat uji LTE.

Industri telekomunikasi saat ini tengah menghadapi tugas yang rumit dalam rangka mengintegrasikan teknologi baru, termasuk LTE, pada pita frekuensi yang berbeda-beda ke dalam berbagai jaringan dan perangkat.

BTS juga telah menjadi sesuatu yang kompleks terkait dengan upaya memenuhi standar yang berbeda-beda seperti divisi frekuensi-LTE, WiMAX dan divisi waktu-LTE.

Vendor alat uji LTE secara global harus mampu bersaing dengan adanya standar yang beragam, sekaligus menyederhanakan sistem pengujian.

Selain itu, vendor-vendor peralatan uji LTE harus bisa beradaptasi dengan mengotomatisasi skrip uji coba, yang diprediksi akan menjadi tren pasar di masa mendatang.

"Penyedia solusi uji coba layanan LTE perlu memastikan bahwa produk mereka menawarkan tingkat pengembalian investasi yang menggiurkan kepada para penyedia layanan, produsen peralatan asli, dan produsen peralatan jaringan, sebagai upaya meraih pangsa pasar," jelas Shaphiro.

"Hal ini berarti bahwa peralatan uji coba harus mampu mendukung kebutuhan seluruh rantai pasokan-produsen komponen, produsen handset, operator, dan laboratorium yang melakukan pengujian untuk melewati siklus R&D secepat mungkin sekaligus memastikan kualitas layanan," pungkasnya.

(rou/tyo)







Hide Ads
LIVE