"Perseroan menetapkan laba bersih 2012 dibagikan untuk dividen sebesar Rp 34,52 per saham dan tidak menyisihkan dana cadangan wajib karena sudah memenuhi berdasarkan peraturan yang ada," kata Direktur Utama ISAT Alexander Rusli usai acara Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Public Expose 2013, di Gedung Indosat, Jakarta, Selasa (18/6/2013).
Dia menyebutkan, perseroan meraih pendapatan konsolidasi sepanjang tahun 2012 naik 9,2% menjadi Rp 22,4 triliun. Namun, laba bersih perseroan sepanjang tahun 2012 turun 61,3% menjadi Rp 375,1 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, perseroan mencatat rugi Rp 71,1 miliar di triwulan I-2013, kerugian ini bengkak 214% dibandingkan posisi pada periode yang sama tahun lalu yang rugi Rp 22,6 miliar.
Membengkaknya kerugian ini akibat adanya peningkatan beban pendanaan sebagai akibat penerapan transaksi sewa dalam penjualan menara telekomunikasi.
Sementara pendapatan Anak usaha Ooredoo (dulu Qatar Telecom/Qtel) itu di tiga bulan pertama tahun ini dibukukan Rp 5,788 triliun, naik 17% dibandingkan posisi pendapatan tahun lalu pada periode yang sama Rp 4,921 triliun.
Nilai dari akselerasi depresiasi di akhir Maret 2013 itu mencapai Rp 302 miliar dengan rugi kurs sebesar Rp 81 miliar. Rugi kurs ini diakibatkan utang perseroan dalam bentuk dolar AS.
Total utang Indosat di triwulan I-2013 mencapai Rp 21,459 triliun, sudah berkurang 7,2% dari posisinya tahun lalu di periode yang sama Rp 23,11 triliun.
Tahun ini, Indosat membidik pertumbuhan pendapatan minimal setara dengan pertumbuhan industri telekomunikasi 11%. Dengan pertumbuhan 11% maka pandapatan Indosat di akhir 2013 ini bisa mencapai Rp 6,42 triliun.
(ang/rou)