Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
ICT Outlook 2013
Broadband Tak Sekadar 'Perang' Hotspot di Mall
ICT Outlook 2013

Broadband Tak Sekadar 'Perang' Hotspot di Mall


Ardhi Suryadhi - detikInet

Ilustrasi (Ist)
Jakarta -

Pembangunan jaringan internet cepat alias broadband semakin menjamur di Indonesia. Namun operator telekomunikasi pun harus pintar-pintar mencari peluang, jangan cuma membangun broadband di mall, tetapi juga di laut dan udara.

Memang, selama ini akses broadband dapat dengan mudah ditemui di darat, sebut saja di mall, kafe, atau tempat publik lainnya. Padahal menurut Chairman Sharing Vision Dimitri Mahayana, peluang bisnis broadband dapat digali di any space.

"Any space di sini artinya bisa di mana saja, bisa di darat, laut dan udara," ujarnya, saat memaparkan hasil riset IT Extravaganza 2013.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Buktinya Deutsche Telekom, Alcatel-Lucent dan Airbus berhasil menguji broadband kecepatan tinggi dalam penerbangan layanan kepada penumpang yang menggunakan sistem komunikasi direct-air-to-ground berdasarkan LTE.

Selain itu, maritime broadband pun dinilai akan mulai menjadi perhatian para pemain lokal. Maka broadband di Indonesia akan mulai menargetkan any space (daratan, lautan, udara). "Broadband diperkirakan tumbuh amat pesat (masih double digit) di 2013," lanjut Dimitri.

Lantas bagaimana dengan di Indonesia? Pria yang juga dosen ITB ini mengungkapkan, di Tanah Air, tren pembangunan broadband pun kurang lebih sama. Menganut any space (darat, laut, dan udara).

"Hanya saja di laut dan udara masih tahap awal dalam melangkah ke sana. Jadi tak sekadar 'perang' hotspot di mal," lanjutnya.

Kondisi ini pun untungnya sudah disadari oleh Garuda Indonesia. Rencananya, maskapai nasional itu akan memasang jaringan internet nirkabel di setiap pesawat Garuda lewat kolaborasinya dengan Telkom.

Bahkan, Direktur Utama Telkom Arief Yahya mengaku malu karena belum terpasangnya WiFi di Garuda. Pasalnya, menurut Arief, pesawat sekelas Garuda ini sudah harus memiliki layanan tersebut.

"Garuda Indonesia itu adalah national flight carier. Alangkah malunya Dirut Telkom Indonesia kalau ada orang asing naik Garuda tidak bisa pake WiFi. Ini poinnya lebih dari bisnis, ini national image. Oleh karenanya ketika Pak Emir katakan harus, saya katakan harus," ungkap Arief saat ditemui beberapa waktu lalu.

Dia mengungkapkan, saat ini Telkom sedang mempersiapkan segala kebutuhan demi pemasangan WiFi itu. Ditargetkan, masih akan membutuhkan waktu hingga 2 tahun lagi bagi para penumpang untuk menikmati layanan internet selama terbang.

"Masih lama, 2 tahunan lah paling cepat. Setiap pesawat yang baru dipasang," tuturnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar mengatakan, dengan menggandeng Telkom, emiten berkode GIAA itu akan memasang fasilitas WiFi. Dana yang dibutuhkan untuk pemasangan fasilitas ini cukup besar, yakni sekitar USD 100.000 untuk satu pesawat.

TV Konvensional Terancam

Dalam riset IT Extravaganza 2013, Dimitri juga menyatakan bahwa youtube dan web based TV (global coverage) akan mulai menggeser TV konvensional dengan kecepatan broadband yang telah melewati kecepatan minimal streaming yang dibutuhkan.

"Setelah dibeli Google, YouTube makin handal dari sisi performa. Dan dari sisi model bisnis, YouTUbe dan web based TV akan sangat mungkin mengancam TV tradisional," kata Dimitri.

"Contohnya, teman saya yang seorang dosen. Ia membuat video tentang cara mengajarnya dan ditaruh di YouTube. Tak lama kemudian, ia dikontak Google untuk ditawari revenue sharing. Jadi inilah salah satu kelebihannya," lanjutnya.

Pertumbuhan broadband ini juga menjadi batu loncatan terhadap booming e-learning, seperti Khan Academy yang telah menyebarkan ilmunya ke berbagai belahan dunia.

(ash/tyo)







Hide Ads