"Kita selesaikan 3G dulu baru BWA. Tender BWA baru akan digelar 2013 mendatang," kata Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos Informatika Kementerian Kominfo Muhammad Budi Setiawan, di sela acara Indosat di Thamrin City, Jakarta, Kamis (6/12/2012).
Kementerian Kominfo sendiri menurutnya masih mengkaji penggelaran tender BWA tahap kedua untuk zona-zona yang ditinggal pemiliknya.
"Kami akan lepas kembali zona-zona yang ditinggalkan pemiliknya pada tahun depan. Kita maunya ini bisa digelar usai tender tambahan frekuensi 3G digelar," ungkap Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemkominfo Gatot S Dewa Broto kepada detikINET.
Dalam lelang nanti, Kominfo akan melepas frekuensi di zonaΒ 5 (Jawa Bagian Barat kecuali Bogor, Depok, dan Bekasi), 10 (Maluku dan Maluku Utara), 12 (Sulawesi Bagian Utara), 15 (Kepulauan Riau), serta dua slot di zona 6 (Jawa Bagian tengah), 7 (Jawa Bagian Timur), dan 9 (Papua).
Pemenang tender 2009 yang mengembalikan izin prinsipnya adalah Telkom (zona 6,7,9,12), Konsorsium Comtronics (zona 5,6,7), dan Konsorsium Wireless Telecommunication Union (WTU) di zona 9,10,dan 15.
Negara sendiri berpotensi kehilangan penerimaan dari frekueensi sekitar Rp 204,93 miliar setelah ketiganya melepas kepemilikan frekuensi.
Lisensi BWA dibagi dalam 15 zona dan masing-masing zona ada dua lisensi, sehingga totalnya ada 30 lisensi. Teknologi yang digunakan adalah Worldwide Interoperability for Microwave Access (Wimax).
Pemenang lisensi BWA di 30 zona itu ada delapan perusahaan, yakni PT Berca Hardaya Perkasa (14 lisensi BWA), PT Telekomunikasi Indonesia (5), PT Indosat Mega Media (2), PT First Media (1), PT Internux (1), PT Jasnita Telekomindo (1), PT Konsorsium Wimax Indonesia (3), dan Konsorsium PT Comtronic System (3).
Sejauh ini baru First Media dan Berca yang terlihat menawarkan layanan tersebut. First Media mulai menggelar layanan broadband Wimax sejak 2011 di Jabodetabek dengan nama Sitra.Β
DalamΒ laporan keuangan First Media, merek Sitra menghasilkan omzet hingga kuartal ketiga 2012 sebesar Rp 8,101 miliar, naik dari Rp 5,152 miliar di kuartal ketiga 2011.
Sedangkan Berca menggelar layanan itu pada awal Februari 2012 di delapan kota, seperti Medan, Batam, Palembang, Pontianak, Pekanbaru, Makassar, Balikpapan, dan Denpasar dengan merek dagang Wigo.
Menanggapi lambannya pengembangan jaringan Wimax, Gatot meminta pelaku usaha untuk tidak ragu-ragu, apalagi teknologi netral diterapkan di 2,3 GHz.
"Pemilik frekuensi adaΒ kewajiban membayar Biaya Hak Penyelengaraan (BHP) Frekuensi. Jika tidak dimaksimalkan, tentu mereka rugi. Kami pun akan terus evaluasi pengelolaan frekuensi yang dikelola," katanya.
Sedangkan Budi mengkonfirmasi, pemilik lisensi Wimax ini bisa saja beralih ke layanan 4G Long Term Evolution (LTE) nantinya. "Wimax bisa saja switch ke LTE, tapi nanti ada regulasi lagi," pungkasnya.
(rou/tyo)