Selain harus berjuang keras memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap konten premium, operator juga harus melawan pemain raksasa seperti Google, Facebook atau Apple.
Seperti diketahui layanan global yang terkenal dengan sebutan over the top (OTT) itu, turut menawarkan aplikasi atau konten digital ke penggunanya, termasuk Indonesia.
"OTT tak bisa dihindari oleh operator telekomunikasi, kita tak bisa melawannya. Mereka harus diakui selangkah lebih maju," kata Gideon, Project Director Service, Content, Application, and Portal Task Force (SCAP) Telkomsel, di Yogyakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walau OTT disokong dengan platform yang besar, Gideon mengaku, masih ada celah tak bisa disentuh oleh Google cs, yakni konten berbasis lokal.
"OTT itukan menyasar segmen tertentu. Aplikasi yang ditawarkan juga sebetulnya global yang diperkenalkan secara lokal. Ada yang OTT tak mampu, yakni memenuhi kebutuhan lokal," tambah Gideon.
Dia menyebut, seolah-olah konten digital ada semua di semua di Play Store Android, padahal menurut catatan Telkomsel penetrasinya hanya 10% sampai 15%. Apalagi iPhone tak lebih dari 2%. Dengan sisa ceruk yang mencapai 85 % hingga 90 % tersebut, membuat Telkomsel yakin bisa menyediakan aplikasi yang berbasis lokal, yang mengerti selera lokal.
"Selera lokal yang tak bisa dipenuhi oleh OTT. Seolah-olah OTT digdaya, padahal mereka itu mati-matian kerjasama operator lokal," tandasnya. (tyo/tyo)