"Iya, kami juga mengajukan proposal 3G untuk di 2,1 GHz," ungkap Head of Corporate Communication Indosat Adrian Prasanto Β saat ditemui di sela diskusi tentang 3G di Seremanis, Jakarta, Rabu (12/9/2012).
Sebelumnya diberitakan, Indosat tak berminat untuk meminta tambahan kapasitas 3G di 2,1 GHz dan lebih memilih untuk mengajukan proposal upgrade teknologi di 900 MHz untuk loncat dari 2G ke 3G.
Namun setelah proposal di 900 MHz disetujui oleh Menkominfo Tifatul Sembiring, Indosat ternyata masih ingin tambahan di 2,1 GHz. Alhasil, dua blok yang tersisa kini tak lagi diperebutkan oleh empat operator, tapi lima setelah Indosat bergabung kembali dalam persaingan.
Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) M Ridwan Effendi menyatakan tidak ada alasan untuk menolak proposal Indosat di 900 MHz. Sebab menurutnya, hal itu sudah sesuai dengan Perpres No.5/2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) yang bertujuan untuk meningkatkan penetrasi broadband.
"Setelah mendapat proposal dari Indosat, kami tes tidak bermasalah dan sesuai dengan RPJM, tidak ada alasan bagi kami untuk menolaknya. Operator lain tidak menutup kemungkinan akan melakukan yang sama," jelasnya.
Direktur Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala menyesalkan langkah pemerintah yang tidak melibatkan stakeholder industri untuk uji publik terkait kebijakan upgrade teknologi ini.
"Pemerintah tidak bisa melihat sepotong-potong dan dari kacamata satu operator saja. Kasus penerapan teknologi netral di 900 MHz merupakan tendensi tidak baik dalam pengembangan frekuensi jangka panjang karena kurang transparan dan hanya menguntungkan satu operator saja," sesalnya.
(rou/rou)