"Revitalisasi yang dilakukan oleh BTEL telah berjalan sesuai harapan dan menunjukkan dampak positif terhadap kinerja perusahaan," papar Rakhmat Junaidi, Direktur Corporate Services Bakrie Telecom.
"Hal tersebut dapat terlihat pada laporan kinerja perusahaan kami untuk Q2 ini yang mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan Q1-2012," terangnya lebih lanjut kepada detikINET di Jakarta, Selasa (7/8/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan laporan kinerja keuangan yang dirilis awal Juni lalu, kerugian itu diakibatkan pendapatan usaha yang turun menjadi hanya Rp 614,35 miliar di tiga bulan pertama tahun ini, dari sebelumnya tahun lalu Rp 830,9 miliar.
Pendapatan yang turun cukup banyak adalah di pos pendapatan telekomunikasi, yaitu dari Rp 717,9 miliar menjadi Rp 526,6 miliar. Sedangkan beban usaha perseroan ikut turun menjadi Rp 696,97 miliar, dari sebelumnya Rp 704,98 miliar di Q1-2011.
Dengan demikian, anak usaha grup Bakrie ini membukukan rugi usaha Rp 170,37 miliar dari sebelumnya Rp 12,96 miliar. Kerugiannya ikut membumbung akibat adanya rugi selisih kurs.
Rugi kurs perseroan mencapai Rp 56,46 miliar, sementara laba kurs tahun sebelumnya mencapai Rp 115,87 miliar.
Nah, untuk memperbaiki kinerja perusahaan di seluruh lini, BTEL seperti dipaparkan Rakhmat, telah menyiapkan lima langkah revitalisasi.
Pertama, program penyehatan dan penguatan keuangan perusahaan. Kedua, penguatan organisasi, budaya perusahaan dan governance.
Ketiga, kembali ke inti kekuatan BTEL yaitu one brand (Esia), one price, tapi dengan banyak opsi produk. Keempat, mendorong pertumbuhan revenue dari data. Dan kelima, peningkatan kualitas produk dan layanan pelanggan.
"Program revitalisasi ini kita lihat sudah mengembalikan Esia ke track-nya," ujar Rakhmat optimistis.
Saat ini, BTEL telah memiliki 11,5 juta pelanggan Esia yang ditunjang dengan infrastruktur 4.000 base transceiver station (BTS) berbasis teknologi CDMA di frekuensi 800 MHz.
(rou/fyk)