Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Fenomena Ekuinoks Maret Hari Ini, Hari Tanpa Bayangan

Fenomena Ekuinoks Maret Hari Ini, Hari Tanpa Bayangan


Rachmatunnisa - detikInet

Bumi disinari matahari dalam posisi ekuinoks atau equinox.
Foto: Getty Images/iStockphoto/Robin_Hoood
Jakarta -

Fenomena astronomi ekuinoks Maret terjadi hari ini, Jumat 20 Maret 2026. Pada momen ini, Matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa, sehingga penyinarannya terasa lebih maksimal di wilayah Indonesia.

Ada sejumlah fakta menarik tentang fenomena ini. Berikut adalah fakta-fakta tentang ekuinoks, dirangkum detikINET dari laman Edukasi Sains dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Asal dan arti ekuinoks

Istilah ekuinoks berasal dari bahasa Latin, yaitu equinoctis atau equum yang bermakna sama, dan noctis yang artinya malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ekuinoks secara harfiah lebih cocok dengan kondisi Bumi yang berada antara belahan Bumi Utara maupun belahan Bumi Selatan, yang sama-sama menerima radiasi yang sama baik besaran maupun durasinya.

Hal itu dikarenakan belahan Bumi Utara disebut tak condong dan lebih dekat ke Matahari, juga tidak menjauhi Matahari. Demikian juga yang terjadi di belahan Selatan.

ADVERTISEMENT

Matahari tepat di atas kepala, bayangan menghilang

Ketika terjadi fenomena ekuinoks, Matahari bersinar tepat di atas kepala (menempati titik zenith), maka setiap bayang-bayang benda tegak yang berdiri di atas garis khatulistiwa akan menghilang sesaat.

Pontianak di Kalimantan Barat merupakan salah satu kota yang berada di garis khatulistiwa. Karena itu Pontianak dikenal sebagai Kota Khatulistiwa karena dilalui oleh garis lintang 0 derajat.

Bagi pengamat yang berada di garis khatulistiwa, Matahari akan berada tepat di atas kepala saat tengah hari. Itu sebabnya banyak juga yang menyebut fenomena ini sebagai hari tanpa bayangan.

Durasi siang dan malam sama

Jika ditinjau dari pengamatan Tata Surya di luar Bumi, posisi sumbu rotasi Bumi tegak lurus terhadap arah sinar Matahari ke Bumi.

Hal ini mengakibatkan batas siang-malam berimpit dengan garis bujur di setiap permukaan Bumi. Sehingga, panjang siang dan malam nyaris sama di seluruh dunia, walau kenyataannya tidak tepat 12 jam karena dipengaruhi oleh refraksi atmosfer.

Terjadi dua kali setahun

Fenomena Matahari tepat di khatulistiwa terjadi dua kali dalam setahun, yaitu setiap Maret dan September.

Ekuinoks juga menjadi penanda hari pertama musim gugur (ekuinoks musim gugur) di belahan Bumi utara dan hari pertama musim semi (ekuinoks musim semi) di belahan Bumi selatan.

Di Indonesia, ekuinoks Maret merupakan pertanda peralihan musim atau pancaroba dari musim hujan ke musim kemarau. Sedangkan ekuinoks September, menjadi penanda peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.

Dilacak sejak peradaban kuno

Selama ribuan tahun, orang-orang telah melacak perjalanan Matahari. Fenomena ekuinoks sering dimasukkan ke dalam tradisi budaya dan agama.

Bagi banyak peradaban kuno, pergeseran Matahari tidak hanya menentukan awal musim, tetapi juga waktu untuk memproduksi dan memanen tanaman.

Di Jepang misalnya, kedua ekuinoks adalah hari libur umum di Jepang dan secara tradisional dianggap sebagai hari untuk menghormati dan memuja leluhur dan orang-orang terkasih yang telah meninggal.

Ekuinoks juga ditandai oleh banyak monumen kuno. Misalnya, selama ekuinoks di kompleks candi Hindu Angkor Wat di Kamboja, Matahari terbit tepat di atas candi pusatnya.




(rns/fay)






Hide Ads