"Saya sudah mengajukan pengunduran diri sebagai Dirut PT Inti dan sudah disetujui oleh pak Menteri. Sebentar lagi akan ada acara pemberhentian dan pengangkatan anggota direksi PT INTI," ungkap Irfan kepada detikINET, Senin (30/7/2012).
Irfan tak mau mengungkap secara detail alasan dari pengunduran dirinya. Ia hanya bilang ingin mencoba berkarir di luar industri telekomunikasi. "Mau nyoba ke tambang. Sekaligus beresin soal financial plan ke depan," ucapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami ingin shifting, dan itu pelan-pelan sudah kami lakukan sejak 2009, dari perusahaan B2B (business to business) menjadi B2C (business to consumer). Semester kedua 2012 ini kami akan meluncurkan smartphone Android," terang Irfan, beberapa waktu lalu.
Meski fokus ke B2C, PT INTI akan tetap mempertahankan enam portofolionya, yakni sistem integrator, managed services, produk genuine, manufakturing, IT & Services, seat management, dan mobile device & content.
Kata Irfan, untuk mengembangkan portofolo bisnis ini, PT Inti perlu modal yang cukup besar. "Itu sebabnya, kami akan melakukan privatisasi dengan melepas 49% saham kami. Kemungkinan bakal dilepas ke sesama BUMN," ujarnya.
Dari penjualan saham yang diperkirakan akan mencapai Rp 332,5 miliar ini diharapkan bisa meningkatkan value dari PT Inti sekaligus mempercepat pertumbuhan bisnis. "
Tentu saja secara bersamaan bisa meningkatkan value BUMN yang beli. Jadi kedua perusahaan bisa memperoleh manfaat," papar Irfan.
Sejumlah BUMN yang paling berminat mengakusisi PT INTI adalah PT Len Industri (LEN) dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom).
Dari penjualan saham yang diperkirakan mencapai Rp 332,5 miliar, sebesar Rp 220 miliar akan didistribusikan untuk bidang telekomunikasi sedangkan sisanya Rp 86 miliar untuk non-telekomunikasi dan Rp 26,5 miliar untuk produk konsumer.
Di 2011 lalu, PT INTI mencatatkan laba bersih Rp 10,43 miliar atau naik sekitar 200%, dari tahun 2010 sebesar Rp 4,59 miliar. Di 2012 ini, PT INTI menargetkan laba bersih sebesar Rp 38,3 miliar.
(/)