Suka tidak suka, tapi faktanya memang demikian. Infrastruktur yang dibangun dengan biaya ratusan juta dolar AS, baik untuk spektrum frekuensi dan jaringan 3G yang ada, mayoritas memang masih digunakan untuk social media.
Hal itu tercermin dari hasil penelitian yang dilakukan Ericsson. Dari survei yang digelar, disebutkan bahwa karakter pengguna yang paling menonjol adalah 'karena orang lain juga punya' atau 'sekadar ikut-ikutan'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masalahnya adalah mobile broadband bukan hanya soal konsumsi seperti menggunakan Facebook, tapi juga produktivitasnya," tutur Nana, begitu Hardyana akrab disapa, di sela Dialog Manajemen Telekomunikasi: Menuju Kesuksesan Implementasi 4G di Indonesia, di Kampus UI, Depok, Selasa (19/6/2012).
Nana juga bilang, kondisi ini ikut dipicu smartphone yang banyak menghabiskan sumber daya spektrum dan banyak memakan trafik.
"Kebutuhan akan semakin besar, kita harus pintar bagaimana cara menggunakan spektrum agar menjadi lebih efisien," ungkapnya.
Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos Informatika Kementerian Kominfo, Muhammad Budi Setiawan, menimpali, masalah itu pula yang menghambat digelarnya layanan 4G di Indonesia.
"Ya, kita bisa bercermin dari 3G. Jangan dilihat dari pemakaian saja, tapi pemanfaatannya. Ekonomi kita bisa naik berapa persen dari adanya layanan teknologi ini. Usage memang tinggi, tapi pemakaiannya apa sudah bisa create bisnis atau lapangan pekerjaan baru?"
"Kalau skala ekonominya sudah bisa tercipta, maka kita siap masuk ke 4G. Untuk 4G LTE ini memang sengaja agak ditahan karena tunggu kesiapan itu," papar Budi lebih lanjut.
(rou/ash)