Hal itu terungkap berdasarkan laporan investigasi The Sunday Times, yang dikutip detikINET dari Daily Mail, Minggu (25/03/2012).
Data yang dijual sangat bervariatif. Ada yang menawarkan nomer kartu kredit lengkap dengan tanggal lahir pengguna, tanggal kadaluarsa, dan nomer pengaman. Namun ada juga data yang terkait informasi finansial serta rekam medis pengguna.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga saat ini kepolisian India masih menelusuri keberanan laporan tersebut. Pihal berwajib setempat juga mengaku cukup kesulitan lantaran banyak perusahaan yang enggan mengakui jika data pelanggannya terjamah.
Di India, call center merupakan salah satu industri yang sangat besar, dan diperkirakan memiliki perputaran uang sebesar USD 4,2 miliar serta menafkahi sedikitnya 330 ribu tenaga kerja.
(eno/rou)